Budaya Plastik, Budaya Masa Lalu

Pembicara & Moderator:

Tiza Mafira (Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik)
Temanku Lima Benua (Direktur Artistik Biennale Bank Sampah, Klaten)
Zulfikar (Zero Waste Consultant; VP Business Development Yagi Natural)

Sampah Plastik dan Penciptaan Kultur Baru

 

Sten Gustaf Thulin tidak pernah menyangka, empat puluh tahun setelah ia menciptakan desain tas pembawa barang yang handy, estetis, dan tentu saja murah, masyarakat seantero dunia menjadikannya alat perusak bumi nomor satu. 

Kantong plastik mirip kaos buntung, yang sekarang sangat akrab dalam keseharian kita, sedianya memang tidak dirancang desainer Swedia tersebut untuk meladeni efisiensi produksi barang dan tingkat konsumsi masyarakat yang pragmatis. Ia hanya ingin membuat kantong bawaan berbahan plastik dan dipakai berkali-kali untuk menggantikan penggunaan kantong kertas yang lebih gampang rusak. Dan menurut keterangan anaknya yang bisa kita ketahui di sejumlah media massa internasional, tujuan utama Thulin tidaklah lain demi mengurangi penebangan pohon sebagai bahan dasar kertas.

Namun yang terjadi hari ini adalah penggunaan kantong plastik yang sangat boros berdampak sangat buruk terhadap lingkungan hidup kita. Sejak pertengahan 1970-an hingga 2015, produksi plastik meningkat signifikan dari 50 juta ton sampai 350 juta ton. Sekitar 146 juta ton dari jumlah tersebut hanya difungsikan untuk pembungkus barang. Seolah-olah baik produsen maupun konsumen bahu-membahu membuat dunia dari sampah kantong plastik. Produsen tidak mau menambah ongkos produksi seperti mengkreasi pembungkus alternatif, sementara konsumen enggan membawa sendiri tas belanja dan terlanjur nyaman dengan asumsi bahwa satu kantong plastik mustahil akan mengotori bumi.

Dampaknya, seperti yang diuraikan Jennifer Ackerman dalam bukunya, Plastic Stuff: The Unhealthful Afterlife of Toys and Packaging, betapa sampah plastik ada di mana-mana. Bahkan jika kita mengambil segenggam pasir atau segelas air laut dari daerah manapun di dunia, kemungkinan besar mengandung mikroplastik. Seperti yang tampak dalam presentasi data Hannah Ritchie dan Max Roser di artikelnya, “Plastic Pollution,” yang memperkirakan 250 juta ton sampah plastik memadati bumi saat ini. Delapan juta ton di antaranya memasuki samudera, bahkan di Samudra Pasifik terdapat pulau-pulau yang terbuat dari tumpukan sampah yang menggunung, dan kini ukurannya hampir mencapai dua kali lipat Texas. 

Fenomena inilah yang diperbincangkan Tiza Mafira dan Temanku Lima Benua (Liben) serta dimoderatori Zulfikar dalam salah satu konferensi di Pekan Kebudayaan Nasional 2020 bertajuk “Budaya Plastik, Budaya Masa Lalu.” Ketiganya adalah aktivis lingkungan. Mereka memaparkan kebiasaan penggunaan plastik yang tanpa pertimbangan telah mendarah daging dalam rutinitas hidup manusia, dampak seperti apa yang diterima alam, dan gerakan yang mereka lakukan untuk menanggulanginya. Dari perbincangan ketiganya, kita tahu betapa genting permasalahan sampah plastik bagi keberlangsungan hidup manusia sekaligus risiko yang terjadi apabila kita tidak acuh atau tidak segera mengatasinya.

Setelah menunjukkan sejumlah gambar tentang pengaruh buruk sampah kantong plastik yang mencemari lingkungan, Tiza Mafira, penggagas Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik, menyatakan bahwa persoalan utamanya adalah penggunaan kantong plastik sekali pakai, dan itu baru terjadi dalam lima belas atau dua puluh tahun belakang. Lebih tepatnya, 50% kantong plastik yang diproduksi di dunia ini barulah sejak awal 2000-an. Sebelum itu, tingkat ketergantungan manusia pada kantong plastik belumlah setinggi sekarang. Sehingga, meskipun sistem pengelolaan sampah punya strategi seperti upcycling dan recycling, tetap saja tidak cukup mengimbangi sampah kantong plastik sekali pakai yang tiada habisnya. 

Salah satu penyebabnya, menurut Tiza, kantong plastik diberikan secara gratis oleh penjual ke pembeli. Masyarakat selalu punya opsi untuk benar-benar menggunakannya hanya sekali saja. Kita sering menemui, misalnya, orang-orang yang berpendidikan tinggi, beriman, atau berideologi tertentu sekalipun, mendadak abai pada persoalan kantong plastik yang mereka gunakan. Oleh karena itu, pada 2013 ia merintis petisi yang ditandatangani sampai 70.000 orang agar penjual retail tidak lagi memberikan kantong plastik secara gratis kepada konsumen. Lalu Tiza dan tim relawan GIDKP disokong oleh Kementerian Lingkungan Hidup mengujicobakan program plastik berbayar di 27 kota di Indonesia. Hasilnya, 55% sampah kantong plastik berkurang di Indonesia. Program ini berlanjut sampai sekarang. Ada 34 kota di Indonesia sudah melarang swalayan atau supermarket memberi kantong plastik. 

Sementara Temanku Lima Benua, Direktur Artistik Biennale Bank Sampah Klaten, mempresentasikan kegiatannya mengkreasikan sampah plastik menjadi berbagai karya seni, mulai dari patung, lukisan, sampai rumah plastik, untuk kemudian mempertunjukkannya pada khalayak di Klaten. Dengan demikian, generasi muda yang sangat peduli terhadap gaya hidup dan memang menjadi sasaran biennale tersebut, bisa ikut terlibat dalam kampanye pengelolaan sampah yang baik. Lebih lanjut menurut Liben, kampanye zero waste sangat mungkin terwujud pada generasi muda hari ini dan mendatang yang pikirannya masih dalam masa pertumbuhan.

Dari perbincangan konferensi inilah, kita bisa menyaksikan bahwa perubahan kultur penggunaan kantong plastik sekali pakai adalah keniscayaan. Jika sementara ini kita baru bisa menerapkan tatkala berbelanja di supermarket atau toko kelontong lain, selanjutnya bisa pada saat kita berbelanja secara online, atau dalam penggunaan plastik jenis lainnya. Tentu saja kampanye yang lebih kreatif dan gerakan yang lebih masif semakin dibutuhkan sejauh kita tidak ingin makan, minum, mandi, dan tidur dengan plastik.  

 

survey