Budaya Kota vs Budaya Desa

Pembicara & Moderator:

Narpati Awangga (Oomleo)
Max Binur (Penggagas Festival Film Papua)
Lintang (PKD Kab. Boyolali)
Prima S. Abdullah (Arsitek, TEDxJakarta)

Meretas Wacana Klasik Budaya Kota versus Budaya Kota

Eksistensi masyarakat desa dan kota, bilamana ditilik dari beragam perspektif ilmu, baik ekonomi, politik, maupun sosial humaniora, nyaris selalu tampak sebagai dua entitas yang berjarak dan berkesenjangan. Kota mengesankan kemajuan sekaligus kemodernan. Di kota, percepatan perubahan senantiasa terjadi lebih masif seiring dengan arus manusianya yang secara signifikan memengaruhi wajah demografi, tata ruang, berikut aspek-aspek sosial-ekonomi di dalamnya. Sedangkan desa, masih terbayangi pandangan klasik pada umumnya, dianggap kawasan yang seakan hanya mewakili zaman silam—untuk tidak menyebutnya sebagai daerah tertinggal. 

Diskusi daring “Budaya Desa versus Budaya Kota” yang diselenggarakan dalam Pekan Kebudayaan Nasional mula-mula juga menyoroti fenomena generik  tersebut. Bertolak dari pengalaman mereka pada bidang kesenian di daerah masing-masing, para narasumber, yakni Narpati Awangga alias oomleo (Seniman Visual), Max Binur (Penggagas Festival Film Papua), dan Styan Lintang Sumiwi (Perwakilan PKD Kabupaten Boyolali) secara beririsan menyinggung karakteristik budaya dan kehidupan masyarakat pedesaan dan perkotaan, berikut perubahan-perubahan yang dihadapi pada era sekarang, termasuk bagaimana teknologi turut berdampak kepada laku sosial para warganya. 

Dalam diskusi yang dimoderatori Prima S. Abdullah (Arsitek dan TedxJakarta), setiap narasumber punya penilaian yang hampir serupa perihal dampak teknologi bagi masyarakat pedesaan dan perkotaan. Narpati Awangga, akrab disapa oomleo, menekankan aspek positif teknologi sebagai sarana mempermudah serapan ilmu. Baginya, perangkat teknologi sangat memengaruhi kerja-kerja kebudayaan, membentuk baik subkultur maupun ekosistem seni baru dengan pola lintas disiplin serta geografi. 

‘Pandemi menyadarkan kita, terkhusus para pekerja seni, untuk memanfaatkan teknologi sebaik-baiknya, bahkan sangat mungkin mengembangkan subkultur budaya terpadu,” ujar oomleo. “Dan kota, lagi-lagi, lebih beruntung mendapatkan akses tersebut sehingga proses penciptaan jadi relatif lebih cepat,’ tambahnya.

Max Binur menambahkan pendapat oomleo dengan menyinggung pola sosial dan budaya di Papua. Max sepakat bahwa teknologi sedemikian lekat dengan masyarakat hari ini, termasuk bagaimana teknologi juga berperan menghubungkan kampung demi kampung di Papua. Bentang alamnya yang luas berikut jarak antar pemukiman yang sangat jauh dulu menjadi tantangan dalam persebaran pesan serta informasi. 

“Dulu mereka berjalan kaki atau menggunakan perahu untuk menyampaikan berita, bahkan kabar untuk keluarga sekalipun. Kemudian berkembang simbol-simbol budaya yang dipakai masyarakat setempat untuk menyampaikan pesan, misalnya penggunaan gelang di tangan si pembawa pesan yang menandakan pesan tertentu, apakah mengumpulkan untuk sebuah pertemuan, atau lainnya,” papar Max melalui aplikasi telekomunikasi daring. 

Permasalahannya kemudian, kata Max, yaitu ketergantungan masyarakat terhadap teknologi. Interaksi masyarakat tradisi menjadi berubah signifikan dikarenakan “kecanduan” terhadap perangkat selulernya masing-masing. ‘Orang-orang mulai kehilangan budaya tutur yang dulu menjadi perekat budaya di Papua. Dahulu, dongeng diwariskan dalam lingkup keluarga, tetapi kini bahkan dalam keluarga sendiri kita teramat jarang berkomunikasi. Sementara, teknologi yang tadinya kita harapkan dapat memperluas pengetahuan budaya, sebut saja televisi, justru lebih banyak menghadirkan hiburan yang kurang mendidik,’ tegas Max seraya menerangkan bahwa Festival Film Papua yang diinisiasinya merekam aktivitas budaya di kampung-kampung. Melalui kegiatan itu, mereka memberi kesempatan bagi ragam budaya di Merauke, Serui, Biak, Wamena, dan wilayah Papua lainnya.

Sementara itu, Styan Lintang Sumiwi (PKD Kabupaten Boyolali) menilik jauh ke abad 16–18 M, masa ketika kawasan lereng Gunung Merapi menjadi wilayah pertemuan para intelektual tradisi sebagaimana terbukti melalui teks-teks peninggalan berupa lontar dan kakawin. Boyolali termasuk kawasan pegunungan yang relatif jauh dari “perkotaan” pada masa kasultanan Nyayongyakarta dan Kasunanan Surakarta sehingga menjadi semacam skriptorium atau tempat penulisan naskah. Sejak 1852, naskah-naskah tersebut disimpan oleh Bataviaasch Genootschap (sekarang PNRI), pun sebagian lain terbawa ke Paris, Berlin, dan Belanda. Dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020, Lintang secara khusus menyinggung Kakawin Darmasunya yang menuturkan jalan pelepasan (moksa), suatu tingkatan tertinggi kesadaran dimana ruh bersatu dengan Siwa. Kakawin yang menjelaskan proses penciptaan manusia, nasihat kearifan mengekang hawa nafsu, sampai pemaknaan hidup dan mati. 

Lintang menerangkan bahwa teks ini kemudian disalin kembali oleh Yosodipuro II menjadi Serta Darmasunya, dan isinya pun berkembang dengan pengaruh Islam. Versi yang relatif lebih asli dilestarikan di Bali. ‘Kami mengetengahkan teks ini sebagai salah satu cerminan bagaimana kawasan lereng Merapi pada masa itu telah menjadi wilayah penting lahir dan berkembangnya intelektualitas, dalam hal ini terkait ilmu-ilmu keagamaan dan spiritualitas. Ini membuktikan bahwa pedesaan dapat mengambil peran utama dalam kehidupan masyarakat,’ papar Lintang. 

Mempertemukan Jarak Budaya

Kita perlu menyoroti komentar Max Binur perihal siasat menjembatani kesenjangan budaya antara desa dan kota di Papua. Menurutnya, demografi perkotaan yang beragam memungkinkan terjadinya pertemuan berbagai kebudayaan, semacam ruang bersama untuk saling menghargai wujud-wujud budaya lokal. Meskipun demikian, Max menyadari pelestari sesungguhnya dari kebudayaan dan tradisi terletak di pedesaan. Oleh karena itu, Max beserta rekannya membuat festival film yang bertitik mula di kampung-kampung, kemudian berjejaring dengan berbagai pihak, mereka sebarluaskan filmnya, lalu menghadirkannya di kota. Artinya, meskipun hal ini tidak tersurat dalam paparannya, Max secara sadar ingin menautkan budaya-budaya pedesaan dengan perkotaan dan membentuk sebentuk jalinan kultural yang semoga dapat saling menunjang. 

oomleo juga memiliki pandangan serupa, tentang bagaimana para pekerja seni serta siapa saja mestilah mengupayakan agar kota dan desa kian terkoneksi. Dia mengilustrasikan pemanfaatan teknologi yang secara lebih canggih dikuasai masyarakat perkotaan ternyata bisa mengadaptasi dan memberikan ruang bagi kesenian tradisi, semisal wayang orang, pertunjukan tari, dan masih banyak lagi. 

‘Ini sebuah peluang, meskipun kita perlu dengan segera berhati-hati, menyinggung kekhawatiran Max tadi, agar teknologi tidak malahan berdampak kontraproduktif,’ kata oomleo. ‘Kekuatan dari kebudayaan salah satunya adalah bagaimana emosi manusia dapat bertaut, ini dilanggengkan oleh berbagai tutur dan kisah yang diwariskan. Dongeng, mitos atau tradisi lisan bukan hanya berupa informasi lisan semata, tetapi mengedepankan interaksi dan afeksi, hal yang tidak didapat lewat teknologi.’

Diskusi “Budaya Desa versus Budaya Kota” relatif utuh menyajikan karakteristik masyarakat dan budaya dalam dua entitas ini. Yang tergambar kepada kita bukan lagi narasi-narasi klasik mengenai kesenjangan maupun jarak-jarak budaya, melainkan hadir pula kesadaran untuk mempertemukan ragam budaya masing-masing lewat perangkat teknologi yang kini tersedia. Meskipun kondisi ini belum ideal terjadi di seluruh wilayah negeri ini, semua yang disajikan masing-masing narasumber sekiranya cukup memantik kita supaya bergerak dan mewujudkan ekosistem kebudayaan yang saling menunjang, dari akar rumput ke perkotaan, pun demikian sebaliknya.

survey