Bellacoustic Indonesia ft. Sanggar Riak Renteng Tingang

Suara Festival Hutan Hujan Tropis

Harmonisasi yang tercipta dari permainan gitar dan kecapi dalam nada pentatonik menjadi signature bagi Bellacoustic. Demi menjaga dan melestarikan kebudayaan dan tradisi di tanah kelahiran mereka, band asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ini menyajikan aransemen-aransemen yang bersumber kepada hasil penggabungan alat musik tradisional seperti kecapi, kangkanung (kenong), dan garantung (gong), dengan alat musik asal Eropa seperti gitar semi akustik, bass elektrik, dan satu set drum. 

Dalam Bellacoustic, Ben Kalvery Igor, Ary Krisnanda dan Hadi Saputra berada di lini depan dengan alat musik petik masing-masing. Ben dengan gitarnya, Ary dengan kecapinya, dan Hadi dengan bass elektriknya. Di belakang mereka, para personil lainnya memainkan alat musik masing-masing, yang hampir semuanya adalah alat musik pukul. 

Dalam grup yang bernama lengkap Borneo Lantunan Acoustic, Ary Krisnanda tidak hanya memainkan kecapi, tetapi juga kangkanung—alat musik pukul yang terbuat dari campuran timah, kuningan dan tembaga. Ketika Ary berada di depan satu set kangkanung, dengan kecapi masih tergantung di tubuhnya, aransemen Bellacoustic beralih lebih progresif dan permainan kangkanung Ary pun masuk mengimbangi progresivitas gitar, disusul gebukan drum Susilo dan pukulan-pukulan Pandji pada satu set garantung di hadapannya. 

Budaya Dayak dalam Bellacoustic, tidak hanya direpresentasikan melalui aransemen musik. Dalam setiap penampilan mereka, para personil Bellacoustic selalu mengenakan kostum pakaian adat Dayak. Kepala burung enggang yang memahkotai kepala Ben dan Hadi merepresentasikan Panglima Burung atau Pangkalima, figur mitologis yang dipercaya oleh masyarakat Dayak sebagai pelindung dan pemersatu. 

Jika di India, penganut Hinduisme mengkeramatkan sapi, di Kalimantan, masyarakat Dayak mengkeramatkan burung enggang, yang memiliki paruh besar dan menyerupai tanduk sapi—nama ilmiah burung enggang itu sendiri mengacu pada bentuk paruhnya, yaitu buceros, yang dalam bahasa Yunani berarti “tanduk sapi.” Setiap bagian pada tubuh burung enggang mempunyai makna bagi masyarakat Dayak. Sayap tebal burung enggang, misalnya, melambangkan sikap pemimpin yang selalu melindungi rakyatnya, sementara bulu ekornya yang panjang melambangkan kemakmuran. Bulu ekor burung enggang yang panjang ini juga menjadi mahkota bagi seluruh personel Bellacoustic setiap kali mereka tampil.

Sebagai masyarakat yang tinggal di tanah berkarunia hutan hujan tropis, Bellacoustic tidak melupakan peran hujan bagi kehidupan manusia, khususnya bagi masyarakat Dayak. Selain memainkan garantung dalam aksi panggung Bellacoustic, Pandji juga memainkan tabung hujan (rain stick), yaitu alat musik berupa tabung yang terbuat dari kayu atau bambu dan berisi kerikil. Tabung hujan adalah alat musik tradisional yang diciptakan oleh suku Indian di Chili dan Argentina, dan diyakini sebagai alat pemanggil hujan oleh masyarakat adat pengemban tradisi terkait. 

Pada salah satu nomor yang ditampilkan Bellacoustic, Pandji memainkan tabung hujannya, sebagai iringan petikan gitar Ben, mengantar nyanyian penyanyi latar perempuan mereka. Bunyi gemerisik kerikil dalam tabung hujan Pandji membuat Ben seperti sedang bermain gitar di tengah gerimis. Di hadapan mereka, ada enam penari perempuan, yang sebelumnya masuk dan tersungkur di atas tanah, kemudian berdiri secara perlahan. Di sela-sela alunan penyanyi latar, personel Bellacoustic bersenandung seperti sedang menyambut hujan. 

Pada nomor itulah Ary tidak hanya memainkan kecapi dan kangkanung, melainkan juga seruling yang ditiup mengikuti senandung penyanyi latar dan personel Bellacoustic lainnya, sedangkan enam penari perempuan yang sebelumnya mengikuti satu komposisi gerakan yang sama memunculkan satu penari utama di antara mereka dengan pola yang berbeda dari yang lainnya. Bellacoustic menyuguhkan sebuah keutuhan persembahan musik yang secara metaforis mendekatkan manusia kepada alamnya lagi.

Tahun ini, Bellacoustic menyajikan musik sekaligus penampilan para penari mereka secara virtual dalam Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2020. Tetap di rumah, dan jangan lewatkan setiap program dalam PKN 2020!

survey