Beksan Lawung Ageng – Jajar

Pelestarian Seni Berakar Sejarah

Warisan tradisi Mataraman, yang meliputi wilayah Solo dan Yogya, merupakan peninggalan budaya yang amat berharga. Pertalian sejarah antara kedua kawasan ini melahirkan ragam serta stilistika seni yang nyaris serupa dan terus dilestarikan hingga kini. Salah satunya, yaitu seni tari tradisi beksan yang berkembang seiring eksistensi Keraton Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta selepas perjanjian Giyanti pada 1755.

Beksan punya aneka ragam, namun bisa disimpulkan—dalam pengertian kesenian Yogyakarta—bahwa keseluruhannya melukiskan peperangan yang ditampilkan penari laki-laki, baik dengan atribut senjata maupun tanpa senjata. Konsep ini sedikit berbeda dengan beksan ala Surakarta yang membaginya dalam jenis tari wireng atau keprajuritan dan pethilan yang merupakan tari perang dari lakon babad. Salah satunya, Tari Wireng Lawung yang langgamnya menggunakan atribut senjata tombak serupa Beksan Lawung Ageng dari Yogyakarta (lawung berarti tombak). Menurut cerita Kasunanan Surakarta, Tari Wireng Lawung diciptakan oleh Susuhunan Pakubuwono IV (1788-1820), sedangkan Beksan Lawung Ageng adalah karya Pangeran Mangkubumi atau Sultan Hamengkubuwono I (1755-1792). 

Tari Lawung Surakarta memiliki dua komposisi, yakni beksan wireng lawung ageng yang dibawakan empat pria bertubuh besar dan gagah, serta beksan wireng alit oleh empat penari pria yang lebih ramping dengan gaya lebih halus. Adapun di Yogyakarta, tari lawung dinamakan Beksan Trunajaya dengan tiga komposisi, yaitu Beksan Lawung Ageng (tarian dengan enam belas lelaki besar bergaya perkasa), Beksan Lawung Alit (enam belas laki-laki penari bergaya halus), dan Beksan Sekar Madura (terdiri dari delapan penari pria bertubuh besar dan ramping, bergaya lamban tanpa perang). Terkadang jumlah penari ini mengalami perubahan kendati tetap dipertahankan agar genap jumlahnya.

Sebagaimana disebut pada laman kratonjogja.id, Beksan Lawung Ageng diciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792) yang terinspirasi perlombaan watangan. Watangan adalah latihan ketangkasan berkuda dan permainan tombak yang biasa dilakukan oleh Abdi Dalem Prajurit pada masa lalu. Gerakan-gerakannya mengandung unsur heroik, patriotik, dan berkarakter maskulin. Dialog yang terdapat di tarian merupakan campuran bahasa Madura, Melayu, dan Jawa. Dialog tersebut umumnya adalah perintah-perintah dalam satuan keprajuritan. 

Beksan yang ditampilkan dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2020 adalah beksan “Lawung Ageng” bagian “Jajar”. Empat peran dalam Beksan Lawung Ageng-Jajar, yakni jajar, botoh, poncon, dan salaothoJajar berperan sebagai prajurit muda yang penuh dengan semangat. Dalam struktur keprajuritan, jajar adalah pangkat paling rendah bagi seorang prajurit. Penari yang berperan sebagai jajar memakai ragam gerak bapang yang bersifat gagah dan ekspresif.  Peran botoh terdiri dari dua penari: sebagai tokoh yang beradu ketangkasan prajurit yang mereka miliki. Ploncon bertugas memegang tombak sebelum digunakan jajar. Dalam pengertian umum, ploncon adalah perabot yang digunakan untuk meletakkan keris, tombak, atau songsong (payung) dalam posisi tegak. Peran plocon terkadang disebut pengampilSalaotho terdiri dari dua penari, masing-masing berperan sebagai Abdi Dalem, pelawak yang setia pada masing-masing botoh. Penari yang berperan sebagai salaotho menggunakan ragam gerak gecul yang bersifat jenaka.

Beksan Lawung Ageng-Jajar ditarikan dengan iringan gendhing gangsaran dan roning tawangGendhing gangsaran digunakan untuk mengiringi bagian awal, sedangkan Gendhing roning tawang  untuk bagian pertarungan antar prajurit jajarGendhing tersebut dimainkan oleh Gangsa Kiai Guntur Sari. Kiai Guntur Sari memiliki saron jauh lebih banyak dari seperangkat gamelan pada umumnya sehingga mampu menciptakan suara yang keras dan kuat seperti guntur. Suara ini cocok sekali untuk menghidupkan suasana latihan perang antara dua kelompok prajurit bersenjata tombak. 

Penting untuk diterangkan pula bahwa Gamelan Kanjeng Kiai Guntur Sari merupakan peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Gamelan berlaras pelog ini digunakan untuk mengiringi tari Beksan TrunajayaHajad Dalem Supitan, dan Tetesan, serta Prajurit Langenastra saat Garebeg Mulud. Tari Beksan Lawung Ageng-Jajar yang ditampilkan ini sangat populer di kalangan penari dan koreografer. Sekolah Menengah Kejuruan 1 Kasihan, Bantul yang merupakan sekolah menengah khusus seni di Yogyakarta, termasuk yang pernah memainkan tari ini, menandakan bahwa Beksan Lawung AgengJajar bukan hanya mentradisi dalam lingkup keraton, tetapi juga dicintai di kalangan masyarakat. 

Pada 2019, saat Sri Sultan Hamengkubowono X menyambut kunjungan Raja Malaysia di Keraton Yogyakarta, disuguhkan tari Beksan Lawung Ageng-Jajar. Pihak Keraton Yogyakarta tentu tidak akan sembarangan mementaskan sebuah tari pada tamu yang hadir; Keraton memandang bahwa tari yang ditampilkan harus memiliki ciri khas Yogyakarta. Jika menilik usianya yang lebih dari 200 tahun, maka kita perlu bersyukur kalau Beksan Lawung Ageng masih bisa bertahan, dan dapat disaksikan generasi berikutnya.

Mari kita beralih ke Beksan Lawung Ageng yang menjadi salah satu sajian dalam Pekan Kebudayaan Nasional tahun ini. Selamat menonton!

 

survey