Ayu Laksmi & Svara Semesta

Musik Bergerak dan Bersuara

Dalam jagat kecil Bentara Budaya Jakarta, sepuluh tahun silam (2010), mimpi besar Ayu Laksmi dihadirkan ke dunia. Bertepatan tanggal lahirnya, 25 November, album yang menjelma anak spiritualnya itu dilahirkan dengan sebelas nama lagu. Svara Semesta merupa bidan yang melahirkan suara jiwa dari seniman multitalenta bernama lengkap I Gusti Ayu Laksmiyani. Ialah pelantun lagu-lagu sarat bermuatan doa yang banyak melanglang buana dalam semesta suara. Ayu Laksmi adalah pengelana nada dan irama (rock, jazz, RnB, latin, dan lainnya) dengan menjadi penyanyi dalam hotel, kafe, restoran hingga kapal pesiar berkeliling dunia. 

Ayu Laksmi sekarang ibarat muara dari masa lalu dan kemudi menuju masa depan. Ia berangkat dari tradisi, walaupun pernah mampir ke perhelatan arus utama musik di ibukota, namun ia kembali berlabuh di tanah Bali, pelabuhan budaya leluhur untuk melestarikannya. Dulu, pada dekade akhir 1980-an hingga awal 1990-an, ia ibarat satu dari ribuan bintang yang cemerlang di langit Jakarta. Cahayanya terpancar sebagai penyanyi lantang di panggung besar. Lady Rocker adalah predikatnya. Cahaya itu tidak bertahan lama, lalu ia tinggalkan begitu saja. Setelah album Istana Yang Hilang (1991), ia sungguh-sungguh menghilang. 

Ayu kembali ke akar kulturalnya, Bali. Ia hendak menuntaskan harapan orang tuanya yang tertunda, yakni menyelesaikan studi sarjana. Ayu merampungkan pendidikan hukum di Universitas Udayana. Pasca itu, ia bergerak hidup sesuai tuntunan Sang Pemberi Gerak saja. Bekerja apapun, namun masih dalam langgam kesenian dan menggali nilai-nilai kehidupan dalam pergaulan sehari-hari. Ayu banyak belajar dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat kecil hingga seniman dan para pemikir besar dari dalam dan luar negeri. Pada fase inilah, Ayu nyaman mencari dan menguatkan jati pribadinya. Kenyamanan ini pun terusik dengan tragedi berdarah paling mengerikan dalam hidupnya, yaitu Peristiwa Bom Bali (2002). 

Peristiwa itu tidak membuat Ayu Laksmi larut dalam kesedihan. Ia berkontemplasi mencari hikmah. “Kenapa semua ini terjadi kepada kami?” begitu tanyanya kepada jiwa di dalam diri. Jawaban pun muncul, segeralah berbangkit dan pulihkan kembali Bali. Biarlah yang terjadi berlalu, masa depan menunggu. Ayu menempuh jalan aktivisme memulihkan Bali. Ia bergabung ke program Bali for the World melakukan pemulihan Bali lewat musik bersama band Tropical Transit. Jenis musik yang dibawakannya selama masa-masa bencana kemanusiaan itu adalah bentuk awal karya-karyanya sekarang, yakni world music. Sembari menyuarakan kemanusiaan, Ayu menemukan kecirian yang khas dan mengeksplorasi rima dan irama teks-teks kuno.

Pasca tragedi, Bali perlahan pulih pada 2006, Ayu kembali hibuk dalam blantika musik. Lagu “Sasi Wimba” dan “Tri Kaya Parisudha” digubahnya pada periode ini. Namun, jenis musik lainnya tidaklah ditinggalkan sama sekali. Justru, pada 2007 dan 2008, Ayu malah banyak tampil di festival jazz dan rock dan acara musik di televisi. Bahkan, ia juga sempat bergelut menjadi konsultan seni pertunjukan bagi Pemerintah Daerah Bali. Perjumpaan dengan banyak pelaku budaya, sastrawan, pembuat film dan musisi, semakin merangsang daya kreatifnya untuk menciptakan sebuah album idealis bergenre world music. Ayu Laksmi pun membentuk wadah bagi kelahiran albumnya kelak. 

Pada 25 September 2010, dibentuklah kelompok musik yang berhajat meluncurkan album bertajuk Svara Semesta. Kelompok musik ini kemudian kerap dipanggil sesuai dengan nama album yang diluncurkannya itu. Ayu Laksmi adalah ‘ibu’ kelompok ini yang kemudian menjadi komunitas berjumlah sekitar seratusan orang. Komunitas ini bermoto menyuarakan cinta kepada siapa saja, di mana saja. Sebab, Cinta adalah ruang jelajah maha luas.

Kini, Svara Semesta telah merilis dua album. Album perdana (2010) bermuatan 11 lagu: “Maha Asa (Big Dream),” “Tri Kaya Parisudha,” “Wirama Totaka,” “Brother & Sister – Adi & Ida,” “Here, Now And Forever More – Om Mani Padme Hum,” “Duh Hyang Ratih (The Moon),” “Ibu,” “Tat Twam Asi,” “I Am Talking To Myself,” “Breathing,” “Reinkarnasi.” Pada album kedua (2015) berisi delapan lagu: “Hyang,” “Daima,” “Tri Hita Karana,” “Btari Nini,” “Kidung Maria,” “Gumam Batin,” “Duh Atma,” “Daima (Long Version)” dan satu bonus track. Lagu-lagu tersebut banyak dilantunkan dalam berbagai teater musikal dan perhelatan budaya lainnya. Beberapa kegiatan teater musikal Ayu Laksmi bersama Svara Semesta, antara lain “Satukan Cinta untuk Dunia” (2012) dipentaskan di Bentara Budaya Bali, “Live Theatrical Music Performance Ayu Laksmi-Svara Semesta” (2015) berpentas di NuArt Sculpture Park, Setraduta Kencana, Bandung, “Cinta Satu Titik” (2015) di Gedung Kesenian Jakarta, tur pentas di beberapa kota di India pada 2017, dan baru-baru ini di masa pandemi tampil dalam Bali Live On Nature Episode 2. 

Dalam menyajikan pementasan musikalnya, Svara Semesta selalu menurunkan para punggawa terbaiknya, antara lain Rico Mantrawan (kibor), Doddy Sambodo (bass), Gede Yudhana (gitar), Ajat Lesmana (perkusi dan didgeridoo), Afan Latanete (multiperkusi), Gustu Brahmanta (drum), serta Made Subandi, Nyoman Suwida, Nyoman Suarsana, dan Wayan Sudarsana (gamelan Bali). Dan pada Pekan Kebudayaan Nasional 2020, kita kembali menyaksikan pementasan Ayu Laksmi & Svara Semesta di laman pkn.id. Bersiaplah melihat, mendengar dan merasakan penyerahan diri Ayu Laksmi dalam suara dan gerak!

survey