Anda Adalah Apa Yang Anda Makan

Pembicara & Moderator:

Max Mandias (Burgreens)
Charles Toto
Ade Putri Paramadita (Culinary Storyteller)

Lidah Menceritakan Asal Usul Kebahagiaan

Makanan adalah hal penting dalam hidup manusia. Dalam karya-karya Haruki Murakami, kita menjumpai tokoh-tokoh yang kuat berikut keunikan perilaku makannya. Itulah salah satu strategi bercerita yang Haruki Murakami terapkan untuk membuat pembacanya betah menyelami karangannya. Lihatlah situasi Toru Okada tatkala ia ditinggal minggat istrinya dalam The Wind-Up Bird Chronicle. Kesepian, kerinduan, dan frustasi si tokoh tergambar melalui caranya membeli bahan makanan, menyiapkan, serta memasak yang ala kadarnya dan tidak variatif. Artikel berjudul Haruki Murakami’s Metaphysics of Food menyebutkan bahwa penggunaan makanan yang dipakai Haruki Murakami untuk menyampaikan perasaan universal manusia seperti kenyamanan, cinta, keterhubungan, dan kebebasan. 

Kamu adalah apa yang kamu makan. Pepatah lama itu menegaskan hubungan yang dalam antara makanan dan kepribadian. Ada orang yang berani menelisik menu baru dalam setiap hidangan yang disantapnya, tapi ada juga yang konsisten mengonsumsi satu-dua jenis makanan saja sepanjang hidupnya; ada orang yang sanggup membayangkan asupan yang ia akan makan hari ini, sejak pagi hingga malam, meskipun ada juga yang baru ingat makan kalau lapar; ada orang yang peduli dengan detail tekstur lembek atau lembut suatu makanan, namun ada juga yang lebih peka manis dan asin. 

Bahkan, ada orang yang selalu bersemangat ingin berbagi cerita seputar makanan yang dikonsumsinya, mulai dari rasanya sampai narasi di sekitarnya. Orang itu bernama Ade Putri Paramadita.

Bermula ketika diundang ke salah satu radio untuk cuap-cuap santai perihal icip-icip makanan pada 2010, Ade Putri Paramadita—yang kesehariannya bergelut di ranah musik—mulai dikenali di industri cita-rasa Indonesia sebagai pendongeng makanan. Musik adalah pekerjaan, sementara makanan adalah kebahagiaan, kira-kira begitulah yang pernah Ade katakan. Secara personal, Ade juga pernah berkelakar bahwa ia tipe orang yang makan untuk hidup untuk makan untuk hidup dan seterusnya. Namun, yang jelas ia bukan orang yang hanya memakan apa yang disukainya, kendati memakan apa yang ingin dia makan untuk kebutuhan bercerita. 

Ade membagikan bermacam-macam kisah terutama seputar makanan Indonesia dari beragam sudut pandang dan melalui berbagai saluran media. Hampir setiap pekan, ia pergi melancong ke luar kota untuk berburu kuliner. Tidak sekadar hubungan makanan dengan kepribadian, ia juga melihat sepiring hidangan itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari gejala sosial, nilai kultural, dan industri besar yang menopangnya. Namun, sebelum masuk pada unsur-unsur eksternal tersebut, hal yang terpenting ia atasi tentu saja adalah makan dan mengenali setiap detail rasanya. Untuk yang terakhir disebut, ia sudah terlatih sedari belia.

Dalam berbagai kesempatan, Ade bercerita bagaimana kultur di keluarganya yang pecinta makanan menjadi faktor yang berandil besar membentuk ketertarikannya pada industri goyang-lidah. Ibunya memiliki usaha katering dan kerap mengajaknya diskusi tentang bumbunya. Dari lingkungan keluarga, ia belajar tidak mengatakan “nggak mau” atau “nggak enak” terhadap sebuah makanan. Kemampuan itu bekal untuknya menjelajahi aneka rasa, mulai dari jajanan pasar yang mudah ditemui sampai makanan yang tidak terpermanai. Suatu kali, ia pernah menjajal minum jus bawang, makan tawon dan laron, menelan ulat sagu hidup, serta banyak jenis makanan lain yang hanya ditemui di tempat-tempat tertentu. Sekali lagi, demi bisa menceritakannya ke banyak orang.

Mengikuti kisah Ade perihal makanan, yang tersebar di tulisan dan tayangannya, kita akan tergugah dengan kekayaan makanan Indonesia, jenis tradisional maupun hibrida. Ia pernah bercerita tentang riwayat sate, dari daratan Xinjiang ke kepulauan Indonesia, sambil ia selipkan bagaimana kolonialisme turut mengubah ukuran daging, dari yang sebelumnya besar-besar dalam satu tusukan menjadi kecil-kecil dan lebih banyak jeroannya. Atau cerita tentang sega lengko yang tanpa daging dan intip tahu yang berasal dari limbah tahu khas Cirebon sekaligus hubungannya dengan masa paceklik. Dengan bahasa sederhana, ia ajak kita untuk berimajinasi hubungan masa lalu dan masa kini melalui makanan.

Berdongeng tentang makanan bagi Ade merupakan upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan kekayaan khazanah kuliner Indonesia. Seumpama bahasa yang kehilangan penutur, makanan juga bisa punah jika pewarisannya dari generasi ke generasi terputus. Apa yang dilakukan Ade hari ini, dalam kadar tertentu, sama dengan apa yang dilakukan oleh para empu pujangga dalam menulis naskah dan menatah artefak di masa lalu. Ia juga seperti menjelma para pelancong-dagang India, Cina, dan Eropa yang berlayar dari pulau ke pulau, kemudian mencatat jenis-jenis makanan yang mereka temui.  

Kita tahu, selain melalui tuturan lisan, pencatatan dan pendokumentasian hal-ihwal makanan di berbagai daerah juga dilakukan melalui bentuk-bentuk tertulis. Melalui Prasasti Waharu I, misalnya, kita bisa tahu pada abad ke-8 dan ke-9 orang-orang Jawa kuno sudah punya kebiasaan mengasinkan ikan. Dalam Serat Centhini, kita juga bisa tahu bahwa ketika ada pesta, orang-orang akan membawa makanan untuk diberikan kepada yang punya hajat, atau menghidangkan makanan oleh tuan rumah kepada tamunya sebagai bentuk kebaikan telah diamalkan semenjak abad ke-10. 

Selain menempatkan makanan dalam sistem tanda sosial dan kultural, cerita-cerita Ade tidak luput menyinggung dan memberi dampak pada soal ekonomi. Terutama dalam konteks industri kuliner di Indonesia yang sedang marak satu dekade belakangan. Fungsi pragmatisnya, tentu saja, sebagai bagian promosi. Ketika ia menulis tentang suatu makanan, secara tidak langsung ia sedang mempromosikannya. Dalam wawancara di tatkala.co, Ade menyatakan storytelling sanggup meningkatkan kepercayaan dan minat konsumen pada suatu produk. Dengan storytelling, produsen tidak memberikan hard information, alih-alih lebih pada penekanan nilai yang terkandung dalam produknya. Ia juga sebutkan pengemasan adalah aspek penting yang meningkatkan derajat makanan tradisional Indonesia.

Tidak hanya mengemas produk makanan sebenarnya, storytelling juga berperan penting untuk berbagai macam industri kreatif. Konsumen masa kini tidak lagi menimbang sebuah produk berdasarkan komposisinya, tetapi juga sangat bergantung pada narasi dan aspek-aspek eksternal lain yang membentuknya. Itulah kelangkaan peran di industri kuliner yang diambil alih Ade Putri Paramadita. Data Badan Ekonomi Kreatif Indonesia pada 2019 menyebutkan dalam dua tahun belakangan pertumbuhan industri kuliner mencapai 13%, menjadi penyumbang terbesar PDB negara untuk subsektor industri kreatif dengan total 410 triliun rupiah dan menyerap tenaga kerja sampai 8,8 juta orang.

Untuk itu, Ade tidak jarang menganjurkan banyak orang untuk turut serta menjadi pencerita makanan. Setidaknya, menurut Ade, kita bisa mulai dengan menceritakan apa yang baru saja kita makan kepada orang-orang terdekat atau mengabarkannya ke khalayak melalui postingan media sosial. Dengan begitu kita terlibat melestarikan, mempromosikan, dan mendorong tumbuh-kembangnya kuliner Indonesia. Satu hal yang tidak kalah menarik, dengan menjadi storyteller makanan, yaitu kita juga sedang mengawetkan memori kolektif atas banyak hal lainnya. Dengan kata lain, menyantap makanan berarti memberi kesaksian kepada lidah untuk bercerita.

Di salah satu unggahan Instagram-nya, Ade menulis, “Makanan nggak melulu soal rasa. Makanan itu terkait kenangan serta momen kita menyantapnya.” Selamat makan! 

Selain Ade Putri, pembicara lainnya adalah Max Mandias dan Charles Toto.

Kebahagiaan, kalaupun ada dalam konsep kebudayaan kita, mesti ditempuh melalui proses berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Selama ini kita lebih sering mendengar petuah atau peribahasa yang menganjurkan supaya rela berkorban, bekerja keras tanpa berharap imbalan, lalu pasrah membiarkan hidup mengalir seperti air, dan seterusnya. Bahkan ada pandangan tradisional yang menyarankan kita tidak boleh terlalu bahagia agar terhindar dari bala. Namun, hal-hal semacam itu tidak serta-merta memengaruhi tingkat kebahagiaan penduduk Indonesia yang berada di posisi ke-84 di dunia pada 2020, di bawah Singapura, Filipina, Malaysia, dan Vietnam. 

Kita tahu, setiap tahun ada lembaga pengukur kebahagiaan penduduk, baik skala nasional maupun regional. Lembaga itu menampilkan indeks pengukur standar bahagia atau tidaknya suatu penduduk, antara lain, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, pendapatan rumah tangga, keharmonisan keluarga, ketersediaan waktu luang, hubungan sosial, kondisi rumah dan aset, keadaan lingkungan, dan keamanan. Kesemua indeks itulah yang mengukur situasi masyarakat di negara A bahagia, masyarakat di provinsi B kurang bahagia, masyarakat di negara C khususnya provinsi D sangat menderita. Kendati demikian, rating kesepuluh indeks itu bisa saja anjlok atau menanjak hanya tergantung satu hal: makanan!

Kira-kira begitulah yang kita dapat simak dari paparan Max Mandias dalam berbagai kesempatan. Makanan menyelamatkan hidupnya, dan oleh karena itu ia mengampanyekan bagaimana semestinya setiap orang mengonsumsi makanan. Makanan tidak hanya soal lapar dan kenyang, kunyah kemudian telan. Makanan merupakan faktor krusial, penentu perasaan yang diproduksi tubuh kita. Dari paparan Max, pada mulanya, perasaan tidak berkenaan dengan hati, melainkan lambung.

Pada tahun ke-6 tinggal di Belanda, Max mulai mencermati betul segala persoalan dalam rutinitas kesehariannya. Delapan bulan ia mengidap insomnia, sejumlah penyakit merongrong tubuhnya, mulai dari sinusitis sampai sembelit. Perasaannya buruk, sering cemas, enggan bertemu orang lain, dan lebih sering menyendiri di rumah. Pada mulanya, ia mengira pekerjaan menjadi faktor penyebab kondisinya tersebut. Dan memang kala itu, ia tidak terlalu menyukai pekerjaan yang digelutinya. Namun, Belanda pada 2012 sedang mengalami resesi, maka tidak logis kalau ia abaikan pekerjaannya selaku data analyst untuk kemudian menenteng-nenteng ijazah dari Amsterdam ke Den Haag.

Max pun mulai mencari tahu pola hidup sehat dan sadar betapa ia adalah pemakan segala, kecuali buah dan sayur. Serta-merta, ia pun mulai mengatur sedemikian rupa yang boleh dan yang tidak boleh ia konsumsi. Salah satu kajian nutrisi yang menggugahnya, yaitu Is Psychological Well-Being Linked to the Consumption of Fruit and Vegetables? terbit di jurnal Social Indicators Research. Riset yang dikerjakan David G. Blanchflower tersebut diawali dengan pembukaan yang sangat memberinya kesan: ada banyak penelitian tentang hal-hal yang memengaruhi kebahagiaan dan kesehatan psikologis manusia, kendati sedikit yang tahu seberapa potensial pengaruh itu berdasarkan perbedaan konsumsi makanan.

Tiga bulan menjalankan mindful eating, berat badan Max turun 14 kg, dan berbagai gejala yang dialami sebelumnya mulai hilang sama sekali tanpa bantuan medis. Dalam kurun waktu itulah, setiap hari ia mengonsumsi buah dan sayur, mengganti asupan protein hewani menjadi protein nabati. Seperti anjuran penelitian yang ia baca, orang yang memakan tujuh porsi buah dan sayur setiap hari mempunyai kesehatan mental lebih ideal. Dalam kuliah ringkasnya di TEDx Universitas Prasetya Mulya Jakarta, Max menyampaikan sejumlah hasil penelitian mengenai pengaruh buah dan sayur terhadap produksi hormon serotonin—zat yang paling punya andil mengondisikan suasana hati—yang sering disebut hormon bahagia. 

Max menjadi vegetarian dan hidup bahagia. Tapi cerita belum selesai. Paparan Max tentang pola makanan dan dampaknya pada persoalan mental mengingatkan kita pada Vegetarian karya Han Kang. Kim Yeong Hye, tokoh utama dalam novel peraih Man Booker International Prize 2016 tersebut, mendadak membuang semua daging di rumahnya karena mimpi-mimpi buruk yang dialaminya. Kim Yeong Hye alergi daging, sampai-sampai ia merasa bau suaminya yang penyuka daging sangatlah menjijikkan. Hal itu menjadi ‘masalah’ dalam cerita hingga menghancurkan keharmonisan rumah tangga, merusak keluarganya. Kim Yeong Hye yang hanya mau makan sayur dan buah akhirnya dikirim ke rumah sakit jiwa. Berbeda dengan pengalaman Max yang justru hidup lebih positif setelah mengganti asupan gizi untuk tubuhnya. Kesan negatif justru muncul dari cerita tentang Kim Yeong Hye. Dua kasus tersebut memperlihatkan hubungan erat antara makanan dengan kesehatan mental. 

Namun, yang dapat digaris-bawahi adalah novel karya perempuan Korea Selatan tersebut menuntut pembaca dalam memerhatikan strategi pengisahannya. Vegetarian tersusun dari tiga bagian, dan tidak ada satu pun narasi yang dituturkan langsung dari sudut pandang Kim Yeong Hye. Sementara kesan ‘buruk’ yang teralamat padanya, segala penilaian yang ia peroleh dari perubahan konsumsi dan sikapnya, timbul dari penggambaran sudut pandang para tokoh lelaki, memakai persepsi atas stereotip budaya patriarkis di konteks Korea Selatan. Meskipun pembaca tidak diberi banyak clue perihal perasaan Kim, apakah dia bahagia atau depresi, tapi kita tahu bahwa dengan berbagai cara ia menolak peran sebagai istri yang hanya memasakkan daging untuk suaminya, anak yang penurut kepada ayahnya, atau sekadar objek seksual oleh iparnya. 

Vegetarianisme dalam novel Han Kang adalah resistensi terhadap kultur patriarkis. Dengan menjadi vegetarian, yang dipandang aneh dan tidak masuk akal lantaran makan daging adalah kultur tradisional Korea Selatan, Han Kang hendak menyatakan perang terhadap kebobrokan adat yang menempatkan perempuan pada posisi pasif di bawah laki-laki. Kita tahu, pandangan miring sejenis itu juga masih kerap didera para vegetarian. Alih-alih dianggap hidup sehat, vegetarian justru dituding sebaliknya. Hal ini memperlihatkan bahwa budaya makan di berbagai tempat, termasuk di Indonesia, bertautan dengan perilaku sosial. Makanan, lagi-lagi, bukan sebatas lidah dan perut, tetapi juga interaksi dengan orang lain. Di meja makan, di kedai, atau di pesta perayaan, di mana piring dan gelas terhampar, posisi dan peran setiap individu teridentifikasi.

Oleh karena itu, Max Mandias tidak ingin hidup sehat sendirian. Selain mendirikan restoran makanan sehat bernama Burgreens pada 2013, ia terus mengampanyekan betapa pentingnya mengkonsumsi makanan yang diolah dari tumbuh-tumbuhan, yang tidak hanya sehat untuk fisik, tapi juga berpengaruh pada mental. Khusus untuk yang terakhir, ia yang sebelumnya memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan hanya ingin jadi kaya, beralih haluan menjadi chef, nutisionis, dan aktivis makanan. Bahkan Max mengikuti kursus plant-based nutrition di Cornell University guna menambah pengetahuannya seputar nutrisi yang terkandung pada tiap-tiap bahan makanan dan fungsinya bagi tubuh.

Tantangan yang Max hadapi tentu saja dari berbagai sisi. Mulai dari gaya hidup masyarakat Indonesia, baik di kota maupun di luar perkotaan yang terbiasa mengkonsumsi daging setiap hari. Belum lagi soal mitos yang kita percayai hari ini bahwa makanan sehat itu mahal dan hanya isu kelas menengah urban, dan tentu saja tidak enak. Dalam hal ini, Max berkali-kali menyampaikan bahwa makanan sehat tidak ada urusannya sama sekali dengan tingkat ekonomi. Pada sebuah wawancara di whiteboardjurnal.com, Max beranggapan kita bisa mengeksplorasi makanan dari bahan-bahan lokal yang dengan mudah kita temukan di pasar tradisional. Semisal kita mengganti almon dengan jenis kacang lain atau blueberry dengan ubi jalar yang juga mengandung antioksidan. 

Max Mandias optimis kampanye yang ia dan para food activist lainnya lakukan bisa memberikan dampak yang luas. Dibanding antara masa awal pendirian Burgreens dengan kondisi saat ini, semakin banyak jumlah orang yang mulai mengonsumsi makanan dengan kesadaran atas nutrisi. Jika pemerintah, pengusaha makanan, dan berbagai pihak terkait mendukung kampanye ini secara masif, tidaklah mustahil taraf kebahagiaan masyarakat Indonesia berpotensi meningkat apabila, katakanlah, mengonsumsi enam tomat sehari.

survey