Alih Wahana Produk Budaya Sebagai Bentuk Transformasi Budaya di Masa Kini

Pembicara & Moderator:

Riri Riza (Sutradara Film)

Alih Wahana: Ekspresi Budaya dan Roda Ekonomi

Ia ternyata hanya butuh seekor tikus hitam dengan sarung tangan putih dan sepatu kuning gombroh untuk sukses, terkenal, dan kemudian kaya raya. Begitu jika kita ingin meringkas perjalanan karier Walter Elias Disney. Setelah menghasilkan sejumlah karya gagal, bangkrut, dan ditipu rekan kerjanya, dalam sebuah perjalanan kereta Disney mencoret-coret kertas buram, sebagaimana kebiasaannya selaku illustrator. Dan di situlah hari kelahiran karakter ikonik sepanjang masa, yakni Mickey Mouse. Selanjutnya kita tahu, si tikus menemui anak-anak melalui berbagai macam medium: Komik, film, merchandise, wahana bermain, games, dan berbagai format lainnya. Tidak menjadi sekadar hiburan, Mickey Mouse lalu menjelma sarana untuk memperkenalkan budaya Amerika Serikat ke berbagai belahan dunia.

Pesan yang ingin kita petik dari cerita ringkas di atas tentu saja bukan pentingnya etos kerja dan sikap pantang menyerah. Kita bisa memperoleh amanat semacam itu dengan mudah dalam banyak teks. Namun dari Mickey Mouse dan berbagai produk keluaran Disney lainnya, kita bisa melihat bagaimana konten bisa berkembang sedemikian rupa. Dengan memaksimalkan potensi-potensi kreatif dari berbagai macam medium, suatu karakter atau cerita bisa bertransformasi dan meluas ke dalam berbagai macam kemungkinan. Pernyataan Disney bahwa, “Disneyland tidak akan pernah selesai, selagi imajinasi masih ada dalam dunia,” sangat tepat untuk menyimpulkan cara konten bekerja.

Cerita ringkas di atas bisa jadi akan berbeda sama sekali jika si tikus hanya tampil dalam satu medium saja, cartoon misalnya. Mickey Mouse mungkin hanya akan bernasib sama dengan pelbagai karakter kartun lain, yang diciptakan untuk dilupakan. Tapi dengan muncul dalam berbagai medium, daya jangkauannya untuk diakses khalayak semakin luas. Nilai-nilai yang hendak ia sampaikan pun terdistribusikan dengan lebih baik. Dan yang tidak kalah penting, satu karakter saja namun dengan kesadaran alih wahana, yaitu sanggup menghidupkan lebih banyak produksi ekosistem kreatif beserta seluruh pelakunya.   

Sejak para pelaku industri kreatif di dunia mengenal konsep intellectual property, alih wahana beralih menjadi suatu model produksi konten kreatif yang sangat potensial, tidak hanya mengembangkan ragam ekspresi kebudayaan, tetapi juga untuk peningkatan nilai ekonomi. Di Indonesia, hukum yang menaungi kepemilikan hak cipta tersebut berada pada Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2020. Dan di Indonesia, praktik alih wahana yang mungkin paling jamak terjadi adalah dari berbagai sumber bertransformasi ke film. Bahkan, jenis transformasi ke medium audio-visual punya istilah sendiri bernama ekranisasi, atau pelayarputihan dari teks ke film. 

Dalam sejarah perfilman Indonesia, dicatat oleh Christoper Woodrich dalam esainya yang ditayangkan cinemapoetica.com, proses ekranisasi sudah ada sejak film pertama diproduksi di Indonesia (waktu itu masih Hindia Belanda). Loetoeng Kasaroeng arahan L. Heuveldorp 1926 merupakan adaptasi dari cerita rakyat ke layar lebar. Kemudian, kita juga mengenal film Eulis Atjeh yang diadaptasi dari novel oleh George Krugers pada 1927 atau film Harta Karun yang diadaptasi Usmar Ismail dari cerita pendek pada 1949.

Untuk itulah dalam salah satu konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020 bertajuk “Alih Wahana sebagai Bentuk Transformasi Budaya Masa Kini,” Riri Riza membagikan pengalamannya dalam menggarap sejumlah film yang ia adaptasi dari berbagai sumber. Setelah menjelaskan secara ringkas dan padat tentang apakah itu alih wahana, sineas kenamaan Indonesia tersebut menceritakan awal-mula ia menggarap film adaptasi, yakni pada 2004 dalam film biopic berjudul Gie. Ia menulis sekaligus menyutradarai film yang memperoleh tiga penghargaan dan delapan nominasi Piala Citra dari catatan harian seorang aktivis Soe Hok Gie. Sejumlah catatan tersebut pernah terbit dalam bentuk buku Catatan Harian Seorang Demonstran (1983).

Soe Hok Gie memang merupakan tokoh ikonik pada rentang 1980–90-an, terutama di kalangan aktivis muda. Namun, setelah buku catatan hariannya tampil di layar lebar, lebih bertambah banyak masyarakat yang kemudian mengenal sosoknya dan mulai mempelajari sejarah politik Indonesia. Bahkan, film tersebut berhasil menarik minat anak muda yang bersekolah pada era 2000-an kepada dunia aktivisme. Meskipun generasi muda 2000-an sebenarnya terpaut jauh dari masa hidup Soe Hok Gie, karakter yang diperankan Nicholas Saputra tersebut mampu mengakomodir jiwa-jiwa bebas dan tidak ingin dikekang. Dengan kata lain, film Gie mampu menjadikan sosok Soe Hok Gie relevan pada berbagai masa.  

Selanjutnya, Riri Riza juga membagikan pengalamannya ketika ia menggarap film yang diadaptasi dari novel laris Laskar Pelangi pada 2008, mulai dari proses pembacaan buku, pengolahan menjadi naskah, sampai eksekusi menjadi materi audio-visual. Baik film maupun novel, Laskar Pelangi meraih apresiasi yang luar biasa dari masyarakat Indonesia. Cerita tentang 11 orang anak dari Belitung yang berjuang demi pendidikan di tengah deraan kemiskinan tersebut menginspirasi banyak orang. Satu hal lain yang menarik dari Laskar Pelangi adalah bagaimana ia beralih menjadi banyak medium: Pertunjukan musikal Laskar Pelangi (yang juga disutradarai oleh Riri Riza), album lagu, film series, dan menjadi destinasi wisata. Mungkin tidak berlebihan kita katakan jika Laskar Pelangi adalah ikon alih wahana di Indonesia, sebagaimana Mickey Mouse di Amerika Serikat.

Dalam konteks budaya, kesadaran alih wahana memang bukan sesuatu yang baru, dan malah telah ada pada saat kepulauan Nusantara masih terbagi dalam kerajaan-kerajaan yang terpisah satu sama lain. Cerita-cerita tentang kekuatan Gajah Mada, misalnya, bisa kita temukan tidak hanya di dalam naskah-naskah kuno, tetapi juga pada ukiran candi dan prasasti. Atau cerita tentang Anggun Nan Tongga dari Minangkabau, selain bisa kita temukan pada teks-teks kaba, juga bisa kita dengar melalui randai dan basijobang. Seperti yang dinyatakan Sapardi Djoko Damono, alih wahana bukan hanya terjadi dari buku menjadi film, lagu yang terinspirasi dari puisi atau kartun menjadi karakter animasi. Alih wahana lahir sebagai manifestasi pergerakan budaya yang dinamis, menyiratkan bahwa kebudayaan tidak pernah berdiam atau memadat dalam suatu kaidah tertentu.

Sekarang, seperti yang telah dilakukan Walter Elias Disney melalui Mickey Mouse, alih wahana juga menawarkan potensi ekonomi yang sangatlah besar. Novel Laskar Pelangi versi novel memperoleh pendapatan sekitar 3 milyar rupiah, sementara filmnya meraup pendapatan 23,6 milyar, belum lagi jika kita hitung turunan medium lainnya. Pendapatan itu tidak untuk satu atau dua pihak belaka, tapi menghidupi sekian banyak pekerja seni yang terlibat dalam garapan berbagai medium Laskar Pelangi. Demikianlah, alih wahana menjadi model dari cara kerja budaya dan produksi di ranah ekonomi kreatif kita belakangan ini.

survey