Aktivisme Lingkungan Sebagai Tugas Netizen Kontemporer

Pembicara & Moderator:

Hanna Keraf (Duanyam)
Rara Sekar (Penyanyi, Pegiat Lingkungan)
Hadi Ismanto

Panjang Umur Bumi dan Kepedulian Kita

Kerusakan yang sedang dan akan terus dialami bumi bukan hanya disebabkan rendahnya etika atau empati sebagian masyarakat terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian, tidak bisa diselamatkan hanya dengan pertimbangan etika atau empati sebagian masyarakatnya. 

Lebih dari soal moralitas, kerusakan bumi mulai dari perubahan suhu, pengasaman air laut, sampai polusi kimia yang hampir melewati ambang batas itu disebabkan karena prinsip ekonomi yang tengah kita terapkan hari ini. Atau seperti yang dinyatakan oleh Fred Magdoff dan John Bellamy Foster dalam bukunya, Lingkungan Hidup dan Kapitalisme, “Karena penghancuran ekologis tercakup di dalam hakikat dan logika bawaan sistem produksi dan distribusi kita saat inilah yang membuatnya menjadi sulit diakhiri.”

Selanjutnya, dalam buku tersebut dijelaskan peningkatan populasi manusia berguna untuk menjaga cadangan tenaga kerja murah. Eksploitasi sumber daya alam terus dilakukan demi memastikan ketersediaan bahan mentah. Meskipun teknologi menimbulkan polusi, penting untuk menekan biaya produksi. Daya konsumsi masyarakat yang tiada henti adalah keuntungan yang bisa diperluas. Bahkan peperangan, resesi ekonomi, atau ketimpangan sosial merupakan bagian tidak terpisahkan dari aktivitas produksi saat ini. Dengan kata lain, seluruh praktek dan kondisi yang berdampak sangat buruk pada lingkungan tersebut justru dibutuhkan untuk menunjang logika ekonomi kita yang kini tidak mengenal batas.

Secara beriringan, aktivitas ekonomi yang demikian turut mengonstruksi pandangan, nilai, atau moralitas kita yang konsumtif, kompetitif, eksploitatif, egois, dan kian berjarak dengan penghargaan terhadap alam. Kultur itu, ironisnya, malah dianggap baik dan bisa menopang keberlanjutan ekonomi. Kita tanpa sadar menempatkan hutan, laut, hewan, tumbuhan, udara, dan elemen-elemen bumi lainnya sebagai sarana untuk memenuhi atau memuaskan kepentingan. Sebuah kultur yang justru membuat kita enggan mengurangi jumlah pakaian, tidak menggunakan kantong plastik, atau bahkan menghemat listrik.

Padahal kerusakan yang sedang didera bumi bukanlah perkara sepele yang dapat ditunda penanggulangannya. Pernyataan sarkastik James Gustave Speth, seorang pemerhati lingkungan di Amerika Serikat dalam thesolutionsjournal.com, bisa kita jadikan ilustrasi dari kerusakan tersebut, yaitu “Yang perlu dilakukan manusia untuk menghancurkan iklim dan biota planet ini dan meninggalkan sebuah dunia yang rusak pada generasi mendatang adalah dengan tetap melanjutkan apa yang sedang dilakukan hari ini, bahkan tanpa perlu adanya pertumbuhan jumlah penduduk atau pertumbuhan ekonomi dunia.” Dengan kata lain, kerusakan bumi yang makin parah hanyalah perkara menunggu waktu belaka jika kita tidak melakukan apa-apa.

Namun, betapapun sulitnya mengubah sistem ekonomi dan sosial saat ini karena hal  tersebut berkenaan dengan jaringan korporasi global, bukan berarti tidak ada pihak yang sedang mencari alternatif lain dalam mewujudkan aktivitas produksi yang berkelanjutan. Ada banyak gerakan di belahan dunia sana yang mulai menerapkan sejumlah eksperimen sosial dan ekonomi dengan mempertimbangkan hubungan sosial yang lebih setara dan keberlangsungan lingkungan hidup jangka panjang, baik dalam skala besar maupun kecil. Terbukti La Via Campesiana, organisasi petani kecil di Amerika Selatan, yang menerapkan bentuk baru pertanian ekologis atau masyarakat tani di Milwaukee yang memutus jaringan distribusi dan mengantarkan langsung hasil petani pada konsumennya.

Di Indonesia, apa yang dilakukan Hanna Keraf melalui program Du’anyam di Nusa Tenggara Timur dan Rara Sekar melalui aktivitas berkebunnya merupakan contoh kecil yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam lingkungan masing-masing. Untuk mengawalinya, kita bisa menyimak pembicaraan kedua narasumber tersebut di sesi diskusi bertajuk “Aktivisme Lingkungan sebagai Tugas Netizen Kontemporer” dalam rangkaian Pekan Kebudayaan Nasional 2020. Dalam sesi yang dimoderatori oleh Hadi Ismanto, Direktur Manual Jakarta, kita tidak hanya menyadari bahwa dampak lingkungan akibat aktivitas ekonomi yang telah dijelaskan di atas terjadi sekarang ini dan ada di sekitar kita, namun juga memberi kita inspirasi untuk melakukan gerakan-gerakan kecil lainnya. 

Enam tahun memproduksi kerajinan tangan anyaman, Hanna Keraf bersama dua orang rekan lainnya di Du’anyam telah mampu meningkatkan 40% pendapatan dari 1.300 lebih perempuan penganyam, yang tersebar di 45 desa di provinsi Nusa Tenggara Timur. Produk-produk anyaman itu pun telah tersebar luas ke lebih dari enam negara selain Indonesia. Tidak hanya berdampak pada pengembangan potensi ibu-ibu di daerah tersebut, sistem produksi berkelanjutan yang diterapkan dalam Du’anyam, yaitu social entrepreneur, juga berpengaruh terhadap pelestarian pohon lontar, pohon gebang, dan pohon waru, pelestarian lahan gambut, serta juga pelestarian kearifan lokal masyarakat di sana. 

Kegiatan ekonomi berbasis gerakan sosial ini, menurut Hanna, memiliki perbedaan signifikan dari kegiatan derma berbagai korporasi besar atau yang disebut dengan corporate social responsibility (CSR). Jika aktivitas sosial pada CSR muncul dari dorongan eksternal perusahaan seperti mematuhi aturan pemerintah—dan sebetulnya tanpa CSR, perusahaan tersebut tetap bisa beroperasi—maka agenda sosial yang sedang mereka lakukan justru menjadi ruh kegiatan ekonominya. Tanpa agenda sosial tersebut, agenda ekonomi tidak akan berjalan.

Sementara Rara Sekar, melalui aktivitas berkebun yang ia lakukan dalam skala kecil telah membawanya tidak hanya pada pemahaman tentang isu pangan (rantai pasok, politik pangan, ketahanan pangan, hingga kedaulatan pangan), tetapi juga memberinya cara baru dalam melihat hubungan antara manusia dan alam. Dengan berusaha memproduksi sendiri bahan makanannya melalui aktivitas berkebun, ia bisa melihat bagaimana jauhnya rentang jarak antara petani dan konsumen dalam sistem ekonomi di masa sekarang. Rentang jarak itulah yang membuat banyak masyarakat tidak punya empati kepada petani, dan pada gilirannya tidak punya etika terhadap lingkungan. 

Perbincangan tentang aktivisme lingkungan dan sosial yang dilakukan oleh Hanna Keraf dan Rara Sekar patut kita simak dan tentu saja kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kita tidak ingin usia bumi hanya bertahan kurang dari seratus tahun lagi.

survey