Variety Show: The Lost Story of Nias: Kisah Pulau Batu Besar

Tradisi Lompat Batu, atau yang dalam bahasa Nias disebut Fahombo, adalah tradisi yang sudah mendunia. Tradisi ini hanya dilakukan oleh laki-laki suku Nias. Lompat Batu merupakan adat yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Nias Selatan (atau, secara umum, bagi seluruh warga Nias di Provinsi Sumatera Utara). 

Dalam Lompat Batu, para pemuda Nias harus melompati tumpukan batu setinggi dua meter agar mereka layak disebut sebagai pria dewasa. Dengan perkembangan zaman dan intensitas interaksi orang luar, Lompat Batu tidak saja dilaksanakan sebagai prosesi adat, tetapi juga dipertunjukkan sebagai hiburan wisatawan lokal dan internasional.

Desa Bawomataluo berada di bukit dengan ketinggian 324 meter di atas permukaan laut. Dalam bahasa Nias, “Bawomataluo” memiliki arti “bukit matahari.” Pada 2009, UNESCO menjadikan Bawomataluo sebagai situs warisan dunia. Pengakuan UNESCO ini tak bisa lepas dari peran masyarakat setempat yang terus menjaga dan melestarikan rumah adat tradisional, seperti Omo Sebua, Omo Hada dan Omo Bale. Beberapa rumah besar sudah direnovasi. Pada mulanya, rumah-rumah adat tersebut menggunakan bahan rumbia sebagai atap. Kini, mereka beralih ke atap seng. 

Omo Sebua, Omo Hada, dan Omo Bale memiliki fungsi yang berbeda. Rumah Adat Nias Omo Sebua dibangun khusus untuk kepala desa atau kepala negeri (kepala adat). Dalam bahasa Nias, Omo Sebua memiliki arti “rumah besar.” Dalam wujudnya, rumah ini lebih besar jika dibandingkan dengan Omo Hada dan Omo Bale. Struktur kayunya lebih kokoh dan bangunannya mempunyai atap yang tinggi. 

Sementara itu, Rumah Adat Nias Omo Sebua merupakan rumah yang dibangun untuk rakyat atau penduduk biasa. Untuk membedakan status sosial penghuninya, kita bisa memperhatikan tugu batu di rumah-rumah tersebut. Semakin tinggi tunggu batu tersebut maka status sosial penghuni rumah itu pun semakin tinggi.

Lain hal dengan Rumah Adat Nias Omo Bale. Omo Bale atau rumah balai berfungsi sebagai tempat berkumpul, tempat musyawarah antara masyarakat adat dengan pimpinan adat. Di sinilah tempat di mana seluruh masalah dimusyawarahkan. Oma Bale tak memiliki dinding. Bangunan ini milik semua masyarakat Nias. 

Nias Selatan tidak hanya punya Lompat Batu dan tiga rumah adat tersebut. Wilayah ini juga memiliki banyak produk kebudayaan dan keindahan alam seperti tari perang (Tari Baluse), Tari Moyo, Museum Pusaka Nias dan Pantai Sorake. 

Pantai Sorake adalah surga bagi para peselancar (surfer) yang datang dari segala penjuru dunia. Pantai Sorake di Nias Selatan menjadi salah satu pantai yang memiliki gelombang terbaik di dunia. Bahkan, pantai ini disebut-sebut sebagai pantai terbaik nomor dua untuk berselancar setelah Hawai. 

Di Kabupaten Nias Selatan terdapat juga banyak desa wisata yang sangat menarik untuk didatangi, seperti Desa Tetegewo, Desa Tundrumbaho, Desa Hilisimaetano dan Desa Bawomataluo. Di Desa Tetegewo dan Desa Tundrumbaho terdapat situs megalit, yang merupakan jejak sejarah paling lama yang ada di Nias Selatan. 


Pergelaran Lainnya:


Pos Serupa:


Tidak ada komentar

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!