Variety Show: Cerlang Nusantara Menuju Masa Depan: Cerita dari Budaya Solok Selatan

Solok Selatan resmi berdiri menjadi kabupaten pada 2004. Kabupaten ini berdiri di atas wilayah seluas 3.346,20 km², dengan Padang Aro sebagai pusat pemerintahannya. Sebelumnya, kabupaten ini adalah bagian Kabupaten Solok, yang pada masa Hindia Belanda disebut Afdeeling Solok. Kabupaten Solok Selatan didiami oleh mayoritas etnis Minangkabau, sementara etnis Jawa yang kemudian tinggal di kabupaten ini pada mulanya datang sebagai pedagang dan karyawan pabrik.

Kabupaten Solok Selatan dijuluki sebagai “Nagari Seribu Rumah Gadang.” Dari julukan itu, kita tahu bahwa kabupaten ini memiliki banyak rumah gadang. Rumah gadang di Solok Selatan bukan sekadar rumah adat, yang tanpa penghuni dan diaktifkan hanya sebagai tempat ritual adat, melainkan rumah tinggal aktif. Ini yang menjadikan rumah gadang di Solok Selatan terus hidup dan bertahan sampai ratusan tahun. 

Riri Riza menyusuri kekayaan budaya di Solok Selatan. Tidak hanya rumah, ia juga mengamati budaya sandang dan pangan di sana. Dan, itu melibatkan manusia Minangkabau yang tetap menjaga dan menghidupkan budaya setempat. Riri pun membawa Solok Selatan ke hadapan kita melalui layar film. 

Di Nagari Koto Baru yang berada di Kecamatan Sungai Pagu, Riri menampilkan kebudayaan Minangkabau dalam tuturan narasumber lokal yang otoritatif, yang menceritakan budaya mereka sendiri, serta perspektif para ahli. 

Kawasan Seribu Rumah Gadang berada di Nagari Koto Baru. Di sinilah rumah-rumah gadang berdiri kokoh, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Kawasan ini menjadi kampung adat terpopuler di Indonesia pada 2017. Penduduk di Kawasan Seribu Rumah Gadang sendiri terdiri dari beberapa suku, seperti suku Barian, Durian, Panai, Kampai, Tiga Lareh, Koto Kaciak, Melayu dan Sikumbang. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa nilai-nilai toleransi tumbuh subur di kawasan ini.

Rumah gadang juga biasa dikenal dengan nama rumah bagonjong dan rumah baanjuang. Rumah ini menampilkan kompleksitas sekaligus kesederhanaan teknik arsitektur. Rumah gadang adalah bangunan berbentuk balok yang mengecil ke bawah dan mengembang ke atas. Atap bangunan berbentuk melengkung tajam di kedua tepinya, seperti tanduk kerbau, yang merupakan simbol kemenangan. 

Atap yang melengkung biasanya terbuat dari ijuk, yang mampu bertahan sampai puluhan tahun. Material rumah gadang banyak mengambil dari alam. Pemanfaatan alam untuk kebutuhan rumah menjadi pesan kepada semua bahwa mau tidak mau manusia harus menjaga alam di sekitarnya. Sebab, semua saling membutuhkan satu dengan lainnya. 

Dalam filmnya, Riri juga menyoroti keterhubungan arsitektur, gastronomi (pangan) dan kain (sandang) dalam adat dan tradisi Minangkabau. Ragam hias di ruang-ruang rumah gadang, misalnya, yang hadir juga di medium lainnya, seperti di kain tradisional. Sementara itu, gastronomi Minangkabau menjadi penggambaran hasil buminya: Kompleks. Seperti makanan Rendang, misalnya, yang nikmat saat disantap karena melalui proses memasak yang panjang.

Melalui karya ini, masyarakat Indonesia dapat memperoleh wawasan Nusantara dengan cara yang menyenangkan. Di era visual, tuturan melalui gambar akan lebih mudah diterima oleh masyarakat kontemporer.


Pergelaran Lainnya:


Pos Serupa:


1 Komentar
  • Muthia Rizka Pratami
    Diposting pada tanggal 23 November 2021 Balas

    Videonya bikin taragak kampuang, mandang bunyi saluang rabab jo maliek rumah gadang
    Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah
    Tagak samo tinggi, duduak samo randah
    Takana kato nanti ampek..
    Itulah urang Minang, walaupn jauah dirantau, ndk ka lupo jo kampuang

    👍👍videonya bikin kangen jo kampuang☺
    Salam dari Suku Chaniago☺

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!