SAHITA: Can Nyi Pohaci Speak?

Pangan, sandang dan papan merupakan konsep dasar yang menjadi pokok dalam kehidupan manusia. Sebagai material, ketiganya telah melampaui berkali-kali lompatan bentuk kebutuhan fisik manusia. Makan tidak saja urusan pemenuhan isi perut, tetapi juga menjadi gaya hidup. Begitu pula dengan sandang dan pangan. Keduanya bahkan telah ditempatkan pada hal extraordinary. Sandang tidak saja soal penutup tubuh, tetapi juga sebagai satu identitas yang selalu berkembang mengikuti perubahan kelas ekonomi dan sosial masyarakat. Papan bukan lagi perihal tempat tinggal belaka, melainkan juga ruang yang dicitrakan sebagai surga impian. Semua capaian kemakmuran tersebut adalah sebuah penanda “kesuburan” alam.

Kesuburan kerap menjadi ikhtiar kemakmuran, menjadi magma bagi kehidupan yang lebih bermartabat. Untuk menghormatinya, masyarakat memiliki sejumlah ritual penghormatan dengan ekspresi yang berbeda-beda. Termasuk di antaranya adalah dengan memproduksi cerita atau legenda tentang “Sang Pemberi Kesuburan.” Orang-orang kini menyebut legenda tersebut sekadar mitos. Bagi pemilik cerita, hal itu adalah falsafah kehidupan yang menggambarkan struktur pemikiran mereka.

Kisah legenda tentang kesuburan ditemukan di banyak wilayah di Indonesia. Di wilayah Sunda, kisah tentang kesuburan terkandung dalam mitologi Nyi Pohaci. Masyarakat Sunda memercayai bahwa air mata tangisan dewa ular Antaboga berubah menjadi telur yang kemudian menetas dan menjadi Nyi Pohaci. Dewi kesuburan ini selalu dirayakan dalam ritual suci petani pedesaan.

Nyi Pohaci menggegerkan khayangan karena akan diperistri oleh Batara Guru. Demi nama baik para Dewata, Nyi Pohaci pun diracun. Namun, atas kekuatan semesta, jasad Nyi Pohaci menghadirkan aneka macam tumbuhan bahan pangan. Kematian Nyi Pohaci ternyata membawa berkah bagi umat manusia. Masyarakat petani Sunda sangat menghormati Nyi Pohaci. Ia adalah asal segala tumbuhan yang menjaga kelangsungan kehidupan manusia.

Nyi Pohaci mengajarkan kita perihal hubungan Tri Tangtu Sunda. Tri Tangtu adalah suatu hubungan yang berdasarkan pada pola kosmologi holistik: langit atau dunia atas, yang direpresentasikan oleh Batara Guru; bumi atau tanah sebagai dunia bawah; dan dunia manusia. Sementara itu, Nyi Pohaci menjadi representasi dunia tengah. Pola ini hadir dalam pengaturan kampung, rumah tinggal, ekologi, pola sandang, peralatan hidup keseharian dan lainnya.

Kisah Nyi Pohaci banyak mengajarkan kita bahwa mencintai bumi beserta isinya adalah sebuah keharusan. Dari kisah itu, konsep ekologi versi ilmu tradisional sudah mengakar dalam laku hidup manusia Nusantara, khususnya manusia Sunda.

Bila kita bergeser ke wilayah Flores, kita menemukan konsep relasi mitologi kesuburan seperti Tri Tangtu dalam hubungan antara Lera Wulan dan Tana Ekan. Lera Wulan dipercaya sebagai dewa langit yang mendatangkan hujan, sedangkan Tana Ekan merupakan dewa bumi yang memberi tanaman. Relasi kosmologis demikian adalah simbol bersatunya unsur langit dan bumi, atau air dan tanah, yang identik pada kehidupan petani. Di masyarakat Jawa, sang pemberi kesuburan disebut sebagai ibu bumi atau bumi pertiwi. 

Bumi adalah ibu. Sosok ibu selalu mendapatkan posisi tinggi dalam kehidupan manusia. Ibu adalah sumber kehidupan. Apakah Nyi Pohaci bisa berbicara sekali lagi kepada kita bahwa kita harus menghargai ibu-bumi dengan sebaik-baiknya, semampu-mampunya?


Pergelaran Lainnya:


Tidak ada komentar

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!