Cultural Fashion: Fashion Tiktok + The Story of Songket Buleleng

Fashion Tiktok

Dunia sedang dilanda demam joget. Bila dulu orang yang joget di platform digital adalah orang yang paham ilmu menari atau dancer, maka kali ini semua orang bisa joged di media sosial yang bernama TikTok. 

TikTok adalah platform video musik dari Tiongkok. Pada 2018, TikTok diblokir di Indonesia karena “dianggap” merusak generasi muda. Namun, kali ini, tidak. TikTok telah menjelma menjadi ajang fesyen yang digemari oleh banyak orang: tua dan muda; laki dan perempuan. Mereka semua menari dalam busana terbaik mereka. 

Dalam video kali ini, Uma Kalinda merespons fenomena para tiktoker (pengguna TikTok). Uma membawa masuk busana tradisional Indonesia ke dalam hiruk pikuk media sosial. Tak perlu memakai runway besar untuk dilewati oleh model-model ternama, atau membayar jasa televisi nasional untuk menampilkan fashion show. Tidak perlu! Jagat raya TikTok telah melampaui itu semua. Apalagi, TikTok banyak dihuni oleh anak muda, yang merupakan sasaran utama pergelaran ini. 

Busana tradisional yang dipadukan dengan teknologi kekinian adalah pendekatan yang luar biasa dari seniman busana Uma Kalinda.

Video Tiktok Fashion ini adalah salah satu cara memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia yang tidak saja menyasar ke dalam negeri, tetapi juga ke luar negeri. Mengapa bisa begitu? Karena ada kerja algoritma di setiap platform digital. 

Uma Kalinda memanfaatkan template TikTok sebagai medium agar Sahabat Budaya tidak hanya mudah mengakses, melainkan juga menikmatinya karya-karyanya. 

The Story of Buleleng

Kain tenun songket dengan motif khas yang dulunya digarap oleh warga Kelurahan Beratan, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, sejak zaman kerajaan mulai kehilangan regenerasi.  Pengrajin yang kini masih tersisa pun tak lebih dari lima orang dan sudah memasuki usia senja.

Eksistensi Songket Beratan merupakan produksi pertama kain songket di Buleleng yang menyuplai pakaian raja-raja sekitar abad ke-14. Hanya saja seiring berkembangnya waktu, warga yang dulu bermata pencaharian sebagai pengrajin tenun mulai mencari peruntungan lain. Generasi penerus di wilayah yang juga terkenal dengan kerajinan emas dan peraknya pun lebih memilih untuk mendapatkan pekerjaan kantoran atau menjadi karyawan swasta dan berwiraswasta.

 


Pergelaran Lainnya:


1 Komentar
  • Komang Ayu
    Diposting pada tanggal 24 November 2021 Balas

    Terharu dan bangga banget dgn tradisi dan budaya songket di Buleleng. Bangga jadi warga Buleleng.

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!