Pembukaan

 


 

NAPAS BUMI

Selayang Pandang Pembukaan Pekan Kebudayaan Nasional 2020

Kearifan tradisi Nusantara mengajarkan kita untuk senantiasa memuliakan sesama serta alam lingkungan, dan esensi ini diwariskan melalui aneka perilaku, bentuk ritual, dan ekspresi kesenian rakyat. Bahkan, hampir di seluruh ragam kebudayaan lokal, konsep-konsep keselarasan ini ditautkan dengan penghormatan kepada Tuhan Maha Kuasa sebagai sumber napas bumi berikut isinya. Pekan Kebudayaan Nasional tahun ini, yang menampilkan kreasi para seniman tradisi maupun kontemporer dari berbagai wilayah Indonesia, ingin mengajak siapa saja untuk menengok kembali nilai dan filosofi tersebut, sekaligus menarik sebentuk refleksi atas kenyataan kita hari ini, yakni perubahan yang menderas terjadi di segala lini serta tantangan pandemi Covid-19.

Manusia yang personal dan alam nan lapang luas; tubuh yang tunggal dan semesta maha raya. Dua entitas ini saling menjalin serta menjadi kepaduan tema pembukaan PKN, Napas Bumi, yang tecermin melalui perhelatan prosesinya pada Sabtu malam (31/10) di laman web pkn.id. Masing-masing seniman yang terlibat tidak hanya mencoba menghadirkan kekayaan budaya daerahnya melainkan pula membagikan pesan kepedulian bahwa Indonesia ialah sebuah ruang ekspresi bersama yang bebas dan merdeka, ruang bagi setiap individu menyadari peran serta identitasnya sebagai bagian dari laku hidup sosial—dan seiring dengan itu terus menanggapi situasi yang bertumbuh di wilayahnya maupun kawasan lain di Bumi Nusantara.  

Hal ini senada dengan pernyataan Presiden Joko Widodo, dibacakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, yang menyampaikan bahwa kemerdekaan memang tidak pernah didapatkan dengan mudah dan menjadi orang yang merdeka adalah menjadi orang yang bertanggungjawab dalam menjalani kemerdekaannya, salah satunya bertanggungjawab menjaga bumi ini. “Kita ada bukan untuk menjajah bumi, kita dan bumi adalah sahabat. Kepadanya kita juga harus berdialog lewat budaya yang diajarkan oleh para leluhur kita,” ujarnya dalam narasi pembukaan. “Kita lahir, tumbuh, dan hidup bersamanya. Kita dan bumi tak terpisahkan. Napas bumi adalah napas kita juga.”

Sementara itu dalam narasinya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menegaskan bahwa bumi tidak hanya menghasilkan kebutuhan pokok, melainkan juga menciptakan kebahagiaan yang menjadi asupan bagi kemurnian nurani dan kejernihan kalbu manusia melalui keindahan dan kemegahannya. “Maka marilah kita jaga keharmonian ini, dengan sesama manusia dan dengan bumi yang kita pijaki.”

Sajian pertama dari prosesi pembukaan PKN ini menghadirkan komponis Ananda Sukarlan yang secara khusus memainkan repertoir karyanya bersama penyanyi tenor muda, Nikodemus Lukas. Karya ini  dibawakan sedemikian puitik persis di bawah naungan pohon sukun dalam situs Rumah Pengasingan Bung Karno, Ende, Nusa Tenggara Timur. Dari lokasi bersejarah ini, tempat Bung Karno dikisahkan duduk merenungkan nilai-nilai Pancasila yang kelak dikukuhkan menjadi dasar negara kita, Ananda mempersembahkan komposisinya yang merespons baris-baris teks proklamasi. 

Penampilan Ananda diawali lantunan piano “Bangun Pemudi-Pemuda” karya Alfred Simanjuntak yang kemudian dipadukan komposisi lagu dari teks proklamasi oleh Nikodemus Lukas. Baris-baris naskah ini secara utuh dinyanyikan. “Dua baris dalam naskah itu memang terkesan tidak puitik namun dia bagaikan menggetarkan sesuatu dalam diri saya,” ujarnya, “Dan saya sengaja memilih seorang penyanyi tenor yang justru berasal dari etnis minoritas untuk menegaskan bahwa kemerdekaan bukan hanya milik kelompok mayoritas melainkan milik kita semua yang hidup di Tanah Air.”

Dari Ende, kita diajak menyaksikan kolaborasi puisi dan musik dari Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid, bersama penyanyi muda berbakat, Naura, dan iringan biola oleh Danu yang menyajikan lagu aransemen Dian HP. Mengusung tema Napas Bumi, persembahan ini kiranya dapatlah dimaknai sebagai pujian bagi alam khatulistiwa Nusantara sekaligus ajakan untuk tak henti-henti mencintainya dengan segenap cara yang kita punya. Berikut sekutip sajak tersebut: dan aku, dengan segenap napasku/mengekalkan segala ingatan tentang bumi ini/yang dengan doa kujejaki/dengan cinta kuhuni/di bumi yang kutahu juga tak berhenti mencintai/dengan segenap napasmu/Napas Bumi

Seni dan Ritual Tradisi

Prosesi pembukaan ini juga memberi ruang bagi ragam budaya tradisi yang tersebar di negeri ini, di antaranya ritual Nyangahatn dari Suku Dayak di Kalimantan, pentas tari tradisi dari Jambi, pertunjukan kolaborasi yang berangkat dari kesenian di Aceh, tari Sigale-gale dari tepian Danau Toba, serta sebuah tayangan kilas balik ritual Rambu Tuka dan Rambu Solo di Toraja pada 3–7 Oktober 2020 lalu. Dengan rupa tayangan yang beraneka ini, maka bolehlah dikata betapa prosesi pembukaan ini tidak diniatkan sebagai pertunjukan tontonan semata-mata, tatkala kesenian maupun kebudayaan seakan-akan hanya terepresentasikan melalui pementasan sehingga seringkali mengesampingkan unsur utama dari keberlangsungan kehidupan kultural, yakni manusia dan alamnya. 

Misalnya, coba kita simak ritual Nyangahatn yang dilangsungkan di hutan dan rumah panjang Suku Dayak, Kalimantan. Prosesi ini berlangsung secara tersebar hampir di seluruh suku Dayak dengan makna tanda penyerahan diri, syukur, dan terima kasih manusia kepada Jubata atau Tuhan yang berkuasa atas seisi semesta. Nyangahatn dilakukan dalam tata cara lantunan yang khas, yang mana ini bermula dari asal katanya: nyangah yang bermakna menjelaskan serta hatn yang artinya berserah pada tujuan. Dalam pelaksanaannya, Nyangahatn yang juga bagian dari ekspresi tradisi lisan ini membutuhkan bermacam-macam pelengkap adat, semisal ai (air dari sungai), manok (ayam), tumpi (cucur), poe’ (pulut/lemang), bontokng (beras yang dibungkus daun dan dimasak dalam bambu), talo (telur), gulita (pelita), kobet (semacam sesaji), dan sebagainya. 

Beberapa literatur menyebutkan ritual ini sebagai salah satu aktivitas religius yang penting bagi orang Dayak. Dia juga melambangkan kegotong-royongan yang melibatkan segenap warga setempat. Dengan demikian, melalui ritual ini kita menemukan relasi yang khas antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesama, serta manusia dengan lingkungannya. 

Sementara itu, dari situs budaya Muaro Jambi, kita menyaksikan gerak nan menawan dari Tari Dana Syarah, kesenian yang semula berkembang di Pelayangan, salah satu wilayah kota Jambi yang di masa silam menjadi pintu masuk para pedagang Arab untuk berdagang dan menyiarkan agama Islam di Jambi. Musiknya rancak, terdiri dari gendang kecil, gendang rebana, biola, dan gambus, terasa elok mengiringi muda-mudi yang menari berpasangan. Ada pula lirik tembang berbahasa setempat yang mengumandangkan pujian atas tanah Jambi. Yang menarik, tarian ini semula hanya dihadirkan di lingkungan keluarga-keluarga Arab sebelum lantas diadaptasi menjadi kesenian unik dari provinsi ini.

Barangkali penting untuk menyinggung lokasi pilihan pementasan tarian ini, tidak lain Situs Candi Muaro Jambi di tepian sungai Batanghari, yang kita kenali sebagai kompleks percandian Hindu-Buddha terluas di Asia Tenggara, yaitu sekitar 3.981 hektar. Kawasan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu ini ditemukan kali pertama pada 1820 oleh letnan Inggris bernama S.C. Crooke sejalan tugasnya memetakan daerah aliran sungai demi kepentingan militer. Meskipun lekat dengan fungsi-fungsi candi Hindu-Buddha, ternyata terdapat ciri pertemuan budaya dari aneka bagian-bagiannya, semisal penemuan manik-manik maupun mata uang yang berasal dari belahan-belahan lain benua Asia, seperti Tiongkok, Tibet, India, dan sebagainya. Ini tak terpungkiri sebab informasi arkeologis menyebutkan bahwa Muaro Jambi dulunya adalah semacam ‘kampus’ bagi mereka yang ingin memperdalam agama Buddha. 

Situs sejarah lain yang mengemuka dalam prosesi pembukaan ini ialah Taman Sari Gunongan peninggalan Kerajaan Aceh. Kawasan ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda sebagai bentuk rasa cintanya kepada Putri Boyongan dari Pahang yang lantas menjadi permaisurinya. Situs Taman Sari Gunongan ini menyertai pula kehadiran situs-situs lain yang tersebar di Aceh, seperti Masjid Baiturrahman, Masjid Tua Indrapuri, dan Benteng Indra Patra, yang seluruhnya dibangun semasa pemerintahannya antara 1607-1636. 

Adapun peristiwa budaya yang berlangsung di sana sebagai rangkaian dari PKN, ialah pentas kolaborasi bertajuk HU yang dalam bahasa Aceh bermakna terang dan indah. Pentas ini melibatkan 10 penari laki-laki dan 13 penari perempuan yang secara medley mempertunjukkan tari Rapai Pasee, Sudati, Likok Pulo, Laweut, Ratoh, serta Rabbani Wahid yang pada tahun 2015 ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Seluruhnya dijalin dengan gerak garapan kreasi baru yang menjadi benang merah secara estetik, dan mempertemukan langgam tari tradisi dengan kemungkinan olah kreasi modern. 

Beralih ke Toraja, kita menjumpai ritual Rambu Tuka yang berkaitan dengan masa panen serta Rambu Solo atau upacara kematian. Ini adalah tayangan khusus dokumentasi yang merekam peristiwa budaya secara langsung pada awal Oktober lalu. Rangkaian ritual tergambar nyaris secara lengkap, dimulai dari penurunan jenazah dari rumah adat, upacara syukuran di Tongkonan Minanga, upacara membungkus jenazah, sampai ritual potong kerbau. Ada pula tari Ma’Badong yang biasa mengiringi ritual, dilakukan secara berkelompok dengan membentuk lingkaran, melibatkan seluruh warga kampung setempat. Lantunan syair lagu pujian bagi si mati, kian menambah magis upacara ini. 

Dari tepian Danau Toba, persisnya di Museum Huta Bolon Simanindo, kita menyaksikan sesosok patung sigale-gale menari tor-tor dengan iringan musik tradisional gondang sabangunan. Boneka dari kayu berselimutkan kain ulos ini konon bermula dari kisah kesedihan seorang raja Samosir yang kehilangan putranya, Manggale, di sebuah medan pertempuran. Kepedihannya dihibur dengan adanya boneka ini, yang sampai hari ini masih dilestarikan menjadi salah satu warisan budaya dari Toba-Samosir. Sigale-gale ditarikan pada saat upacara penguburan mayat dan dikendalikan oleh seseorang di belakangnya dengan tali-tali tersembunyi. Walau demikian, kini kita memang bisa menjumpai sigale-gale yang dipertunjukkan untuk wisatawan.

Tubuh dalam Kesemestaan

Selain ragam seni dan ritual tradisi tadi, prosesi pembukaan PKN ini juga menyuguhkan garapan kontemporer dari dua seniman tari dan koreografer kebanggaan Indonesia, yakni Rianto Manali dan Eko Supriyanto. 

Berangkat dari langgam tari tradisi lengger, Rianto Manali mengetengahkan pementasan bertajuk Mantra Tubuh persis dari tengah aliran sungai sekitar Banyumas—sebuah karya yang secara nyata memadukan antara gerak penari dengan irama alam terbuka, simbolisasi kemanunggalan antara tubuh yang personal dengan kesemestaan. 

Tubuh bagi Rianto seperti jejak dalam kehidupannya. Bersama tubuh pula, Rianto mencari dirinya, yang membawanya pada pemahaman bahwa tubuh manusia satu dengan yang lain tidaklah jauh berbeda. Rianto tumbuh di Banyumas, sebuah wilayah yang dalam peta kebudayaan Jawa relatif berbeda dibandingkan Solo atau Yogya. Di Banyumas kesenian berkembang dengan suasana yang lebih egaliter sekaligus lebih terbuka, tanpa terlalu dibayangi suasana-suasana hirarkis maupun feodal. Di Banyumas seringkali kita menemui jenis kesenian yang tidak akan pernah kita temukan di daerah lain, salah satunya ronggeng, sejenis tarian yang bebas merdeka gerakannya. Ronggeng atau lengger bisa dimainkan oleh perempuan maupun laki-laki. Kendati demikian, langgamnya tetaplah feminin. Dan Rianto sejak kanak mempelajari tarian ini—kini menjadi lengger lanang atau lengger laki-laki—dan bersama lengger ini pula dia menjelajah lebih dalam untuk mencari esensi tubuh yang lintas sekat dan lintas identitas. 

Jika Rianto memiliki pengalaman tubuh yang dinamis, Eko Supriyanto pun mempunyai pengalaman tubuhnya tersendiri. Tumbuh sebagai remaja di Magelang, Eko Supriyanto yang sering dipanggil Eko Pece ini memang berlatar belakang keluarga penari. Kakeknya seorang guru tari, dan dari beliaulah Eko mengenal kesenian ini. Menginjak remaja, dirinya kemudian belajar menari pada beberapa penari senior di Magelang, hingga berkuliah di Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, yang nantinya menjadi Institut Seni Indonesia Surakarta. Eko merupakan generasi baru di STSI Surakarta; dirinya boleh dikata termasuk Generasi Kentingan, sebutan tempat kampus baru STSI Surakarta. 

Eko beruntung bertemu para penari senior yang agaknya turut membentuk perjalanan berkeseniannya, seperti Sunarno, Wahyu Santoso Prabowo, dan Soeprapto Suryodarmo. Pertemuan ini tidak sekadar pertemuan pribadi, namun juga pertemuan gagasan, bahkan bagaikan pertemuan gerak antara mereka. Pengalaman gerak Eko bersama para penari senior tadi memperkaya khazanah gerak yang dimilikinya. Tidak hanya sampai di sini saja, Eko juga memiliki pengalaman gerak bersama para koreografer dan penari dari berbagai negara, bahkan Eko pernah menjadi penari latar Madonna, penyanyi Amerika Serikat yang sangat populer di era 80-an sampai 2000-an. 

Dalam perhelatan PKN ini, Eko menampilkan garapan terbarunya bertajuk Mighty Indonesia yang dia pentaskan dari pelataran Candi Borobudur nan megah itu. Menyaksikan koreografi ini kita dengan segera dapat merujuk pencarian Eko yang mencerap khazanah keindonesiaan sebagaimana yang ditunjukkannya dalam seri eksplorasi tari di Jailolo tempo hari. Kita pun tahu, di Jailolo Eko tidak hanya menari, melainkan pula berbagi pengalaman kepada masyarakat Jailolo, termasuk mengajak para penari muda terutama dari Solo untuk menciptakan tari yang diinspirasi suasana Jailolo. Sementara itu, pada Mighty Indonesia, Eko ingin menghadirkan spirit tradisi Nusantara lewat ritual, rempah, dan pembacaan tubuh manusia. Baginya, tubuh manusia selalu berkait-kelindan dengan apa yang ada di sekelilingnya; dia tidak berdiri sendiri melainkan berdialog dengan lingkungan, alam budayanya, serta juga teknologi yang melingkupinya.

Dikarenakan pandemi Covid-19, seluruh rangkaian PKN, pun juga agenda pembukaannya, seluruhnya dilakukan secara daring. Ekspresi kesenian yang sarat dengan nuansa kebersamaan termasuk pula kemeriahan pesta rakyat kini terpaksa hanya dapat kita simak melalui tayangan virtual. Tubuh dalam pengertian budaya tradisi, yang mana lekat dengannya segala rupa keterikatan dengan alam lingkungan dan alam sosial, mau tidak mau tampil terbatasi, mendorong para seniman dalam memaknai kembali esensi serta kemungkinan berkreativitas. Lain dari itu, apa yang disuguhkan oleh para pelaku seni ini, baik yang tradisi maupun kontemporer yang tetap berusaha menyajikan garapannya secara maksimal bolehlah menjadi cermin penyemangat kita akan usaha-usaha untuk terus bertahan menghidupkan napas kebudayaan. 

Pesan itu pula yang dimunculkan dalam gelaran akhir rangkaian pembukaan PKN ini, ketika Naura menyanyikan lagu Aku Indonesia dengan iringan biola dari Danu, membawakan aransemen karya Dian HP. Menyisipkan suasana rancak penuh gairah, sajian ini mengelaborasi langgam Melayu, terkhusus irama Joget Pucuk Pisang. Ternyata, kita masih mungkin merasai kemeriahan, boleh juga berjoget dari jarak jauh, tanpa ragu dan malu. Pekan Kebudayaan Nasional 2020 telah dibuka! Marilah, ini saatnya kita berbangga menikmati kreasi seni budaya Nusantara, yang tumbuh subur di Bumi Indonesia ini!

 

foto-foto: Feri Latief



survey