Ketahanan pangan merupakan salah satu isu penting dalam pembangunan nasional di Indonesia. Perhatian terhadap isu ini sangat perlu dilakukan, terutama bagi negara berkembang seperti negara kita ini. Lantas, mengapa perlu diperhatikan? Sebab, ketahanan pangan berkaitan erat dengan ketahanan sosial, stabilitas ekonomi, politik serta keamanan (ketahanan nasional).

Pembangunan ketahanan pangan harus diiringi dengan sistem kelembagaan pengelolaan pangan di masyarakat. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui kemampuan produksi, peningkatan pengelolaan cadangan pangan, dan distribusi yang mengedepankan kesetaraan agar tidak terjadi kesenjangan antar daerah.

Oleh karena itu, keberadaan lumbung merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi persoalan pangan masyarakat ini.

Jenis-jenis Lumbung di Indonesia

Lumbung didirikan dalam tradisi masyarakat agraris di Indonesia. Pengertian dari lumbung sendiri yaitu bangunan penyimpanan padi-padian atau hasil panen. Lumbung juga terkadang digunakan untuk menyimpan pakan ternak.

Pada zaman purbakala, rata-rata lumbung dibuat dari tanah liat atau tembikar. Tempat ini dibuat dengan bentuk panggung yang berkaki tinggi agar padi yang disimpan terhindar dari tikus dan binatang lainnya.

Tiap daerah di Indonesia memiliki budaya atau tradisi lumbung yang berbeda meski fungsinya tetap sama. Untuk itu, mari kita kenali lebih dalam ragam lumbung yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

  1. Leuit
    Leuit merupakan tempat penyimpanan hasil bumi padi atau hasil panen warga suku Baduy di daerah perdesaan di Banten. Bagi masyarakat Baduy, ketahanan pangan sangat penting untuk dijaga karena hubungan mereka dengan dunia luar sangat terbatas.
    Leuit menjadi simbol ketahanan pangan bagi suku Baduy Dalam maupun suku Baduy Luar. Orang Baduy berusaha untuk memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri. Mereka tidak terpengaruh oleh isu beras impor.
    Tetapi, ada satu pantangan yang harus dipatuhi sebagian besar masyarakat adat Banten. Mereka tidak boleh menjual padi hasil panen mereka sendiri. Padi yang dihasilkan harus disimpan dalam Leuit dan dikonsumsi sendiri.
    Leuit memiliki bentuk seperti rumah panggung yang terbuat dari anyaman bambu. Lumbung ini ditopang oleh empat kayu atau tihang dan mempunyai tinggi sekitar satu meter dari permukaan tanah
  2. Rangkiang
    Jika kita berkunjung ke Provinsi Sumatera Barat, pasti kita akan menemukan Rumah Gadang, yang merupakan rumah tradisional khas daerah tersebut, tersebar di berbagai wilayahnya. Dan, bila diperhatikan, terdapat pula Rumah Gadang ‘mini’ di halaman rumah adat tersebut. Bangunan itu bernama Rangkiang.
    Rangkiang adalah tempat penyimpanan padi dan hasil panen suku Minangkabau. Rangkiang berasal dari kata Ruang Hinyang, yang kemudian diubah menjadi Rangkiang. Padi yang disimpan di dalam lumbung ini diawasi oleh Mamak atau Tungganai dalam suatu kaum. Sedangkan kekuasaan dari Rangkiang sendiri dipegang oleh Bundo Kanduang (Bunda Kandung).
    Lumbung yang satu ini terdiri dari berbagai jenis dengan fungsi dan bentuk yang berbeda-beda, di antaranya Sitinjau Lauik, Si Bayau-bayau, Si Tangguang Lapa atau Sitangka Lapa dan Kaciak
  3. Uma Lengge
    Uma Lengge merupakan lumbung masyarakat Bima, Nusa Tenggara Barat. Berbeda dengan daerah lainnya, orang Bima justru menjadikan lumbung ini sebagai rumah tinggal. Bagian atas Uma Lengge berbentuk segitiga lancip dengan panggung yang mempunyai empat tiang penopang di bagian bawahnya.
    Pada bagian segitiga lancip, area ini membentuk ruang dalam yang terbagi menjadi dua lantai. Lantai bagian bawah mempunyai luas yang lebih besar dan berfungsi sebagai tempat untuk penghuni rumah beraktivitas. Sedangkan ruang di atasnya berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil ladang

 

Selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan hasil panen, lumbung juga menjadi penyelamat di kala petani mengalami gagal panen dan pada saat musim paceklik tiba. Pada saat-saat seperti itulah para petani mengandalkan lumbung untuk membantu mereka mengatasi kekurangan hasil panen. Mereka tidak perlu terlalu mencemaskan ketersediaan pangan mereka.

Hal ini otomatis dapat meningkatkan pendapatan kelompok lumbung pangan. Pada saat harga pangan sedang melambung tinggi, mereka dapat memanfaatkannya dengan menjual persediaan pangan yang disimpan di lumbung. Penghasilan tersebut dapat digunakan sebagai biaya pengelolaan lumbung pangan itu sendiri.

Lumbung memiliki fungsi dan makna yang hampir sama di setiap wilayah. Bukan hanya sebagai tempat menyimpan padi, lumbung merupakan kearifan lokal yang perlu dilestarikan agar ketahanan dan kesejahteraan pangan bagi masyarakat Indonesia tercapai.

Inspirasi Lainnya:


Tidak ada komentar

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!