Rumah Kita

Bincang Rupa & Ragam Dokumentasi Arsitektur

Rumah Kita: Bincang Rupa & Ragam Dokumentasi Arsitektur Nusantara

Arsitektur Nusantara merupakan wujud ekspresi budaya dan cita-cita masyarakat setempat. Agar hal tersebut terawat, pendokumentasian arsitektur Nusantara menjadi penting. Demikian disampaikan oleh Michael Sunders dari Baling-Baling Bambu dalam lokakarya Rumah Kita: Bincang Rupa & Ragam Dokumentasi Arsitektur Nusantara,  pada 29 Juli 2021 melalui platform Zoom dan Youtube Live.

Dimoderatori oleh Jessie Silana Wongsodiharjo, Michael mengisahkan pengalaman membuat film dokumenter tentang arsitektur masyarakat Desa Suroba, Wamena, Papua Barat, pada 2016. Masyarakat Suroba hidup berkelompok dan memiliki rumah adat bernama honai. Kumpulan honai disebut silimo, yang ditata sedemikian rupa untuk mendukung kehidupan sehari-hari masyarakat. 

Honai terbagi dua, yaitu honai laki-laki (tilamo) dan honai perempuan. Tilamo terletak di dekat pintu masuk silimo, sedangkan honai perempuan berada di pinggiran. Di dekat honai perempuan ada dapur besar (hunila) untuk keluarga yang bermukim. Jumlah tungku dapur disesuaikan dengan banyaknya anggota keluarga. Tak jauh dari dapur tampak kandang babi dan kebun tanaman. 

Michael memperoleh banyak pengetahuan baru dari pembuatan honai. Menurutnya, masyarakat Desa Suroba memiliki pengetahuan dan teknik arsitektur yang tinggi sekaligus karib dengan alam. Desain honai juga menyesuaikan cara hidup masyarakat Suroba yang banyak beraktivitas di luar ruangan. Honai digunakan hanya untuk tidur. ”Karakteristik aktivitas mereka ini menurut saya akan berpengaruh terhadap fungsi arsitektur rumah sebagai naungan itu,” ujar Michael.

Honai dibangun secara gotong-royong oleh warga silimo dan warga di luar silimo. Melalui pembuatan honai, orang dewasa mewariskan ilmu pengetahuan kepada generasi yang lebih muda. Anak-anak dibiarkan bermain di sekitar para pekerja. Tak jarang Michael menemukan anak-anak yang bertanya pada bapaknya tentang teknik pembuatan honai.

“Karena saya sempat mendapati beberapa kali ada bapak yang memberi tahu anaknya cara mengikat rumput untuk dinding rumah dan segala macamnya.” lanjut Michael. 

Film dokumenter, toleransi, dan solidaritas sosial

Masyarakat Indonesia lebih lekat pada komunikasi non-tekstual.Film dokumenter dapat menjadi alternatif wahana dan berperan penting dalam  edukasi kekayaan budaya Indonesia. 

“Lebih efektif untuk umumnya masyarakat Indonesia era sekarang, karena budaya literasi di Indonesia sudah jadi masalah yang cukup panjang dan berkelanjutan,” kata Janice Widjaja, pembicara kedua sekaligus rekan Michael di Baling-Baling Bambu. 

Film dokumenter tentang budaya Indonesia yang mengenalkan keragaman budaya akan membuat penonton berpikir tentang perlunya toleransi dalam masyarakat majemuk. Perasaan empati dan toleransi itu menjadi dasar penting untuk membangun solidaritas sosial masyarakat. Film dokumenter mampu menggugah persepsi masyarakat dan dampaknya dapat terlihat melalui perubahan sosial yang dihasilkan setelah menonton.

”Dari film dokumenter, kemudian dihubungkan dengan pengalaman penonton, membuat penonton jadi teredukasi, sehingga lebih toleran dan bisa berempati kepada pihak-pihak lain. Dari sini akan muncul solidaritas sosial dan kultural, sehingga dapat menjadi aksi positif,” ungkap Janice.

Dalam ranah arsitektur Nusantara, film dokumenter berperan menceritakan makna, teknik, dan sejarah arsitektur kepada klien. ”Klien kita juga harus tahu apa sih yang ada di balik arsitektur Indonesia,” terang Janice.

Janice menyebut beberapa faktor kunci agar film dokumenter dapat berdampak besar dan menancap kuat di benak penontonnya. Film dokumenter harus memiliki tema dan cerita yang kuat, strategi pencapaian tujuan, sumber pendanaan, sasaran penonton, kerjasama, umpan-balik dari penonton, dan relevansinya dengan kehidupan masyarakat. Tak kalah penting juga pemanfaatan platform-platform digital yang sudah dikenal masyarakat luas.

Film dokumenter terdiri dari dua komposisi besar, yaitu gambar dan suara. Gambar memuat setidaknya komposisi rangkaian kejadian, potongan-potongan sumber pustaka, rekaman pernyataan tokoh atau narasumber, wawancara terstruktur, dokumen-dokumen, dan layar kosong. Suara terbagi atas narasi atau reportase, suara yang muncul dari footage asli (synchronous sound), efek suara, musik, dan suara sepi.

Karya film dokumenter Kynan Tegar turut diputarkan dalam acara ini sebagai contoh karya film dokumenter yang baik. Kynan Tegar adalah generasi muda suku Dayak Iban yang juga  menjadi pembicara. Karyanya berjudul ”Utik” mengangkat pembangunan Rumah Budaya Dayak Iban. Dari film itu, penonton akan menemukan makna dan arti penting pembangunan rumah seperti gotong royong dan pelestarian lingkungan. 

Nilai gotong royong muncul dari adegan kerjasama suku Dayak Iban dalam membangun rumah budaya. Nilai pelestarian lingkungan tampak dari cara mereka mengambil bahan-bahan bangunan dari alam secara seksama, cermat, dan hemat. 

Rumah tersebut nantinya akan digunakan untuk memajang pernak-pernik budaya masyarakat Iban. Rumah ini juga akan menjadi contoh nyata arsitektur dan fungsi rumah panjang khas suku Dayak Iban yang asli, seperti rumah yang dihuni para leluhur Kynan. Menurut Kynan, rumah-rumah panjang yang ada sekarang sudah tidak asli lagi. Rumah-rumah ini mengalami perubahan akibat pengaruh modernisasi.  

Kynan berharap filmnya membangkitkan kembali kenangan masyarakat Iban di Sungai Utik akan tradisi luhur nenek moyangnya. 


Rumah bukan hanya tempat bermukim, melainkan juga ruang interaksi budaya tempat masyarakat mengungkapkan cita-cita dan rekaman kenangan mereka. Mendokumentasikan ragam arsitektur Nusantara adalah langkah penting untuk merawat ekspresi cita-cita dan ingatan kebudayaan masyarakat. Lewat Kelas Generasi Cerlang ini kita akan belajar bersama merekam arsitektur Nusantara dalam rupa video dokumenter yang memperhatikan dimensi artistik dan nilai budaya ragam arsitektur tersebut. Lebih khusus lagi, dalam kelas ini kalian akan belajar tentang seluk-beluk pelestarian rumah tradisional, mulai dari aspek pendanaan, metode pengelolaan pemukiman tradisional, hingga kerjasama dengan aneka pemangku kepentingan.

  • Ada kejutan menarik untuk lima pendaftar pertama!
  • Menangkan hadiah untuk tiga peserta teraktif!

Narasumber dan Materi

  1. Janice Widjaja (Baling-Baling Bambu)
  2. Michael Sunders (Baling-Baling Bambu)
  3. Kynan Tegar (Sungai Utik, Kalimantan Barat)

Pembukaan Pendaftaran

20 Juli 2021

Penutupan Pendaftaran

28 Juli 2021

Waktu Penyelenggaraan

Kamis, 29 Juli 2021

13.00 - 16.00 WIB

Narahubung

Annisa Bunga F (089639108792)

Tidak ada komentar

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!