Kulineran

Kenali Unik & Enaknya Ragam Warisan Pangan Nusantara

Fotografi Festival Kuliner | Fotografi Penataan Makanan

Festival pangan diadakan setiap tahun di beberapa tempat di Indonesia. Selain mengandung segi wisata, festival pangan juga memuat nilai-nilai budaya. Karena itu, festival pangan selalu bertautan dengan unsur-unsur lain yang ada di masyarakat.

“Ada terkait dengan lingkungan, dengan arsitektur, dengan musik, dengan kesenian, dan lain sebagainya. Pasti itu akan bertaut menjadi satu,” kata Fendi Siregar, fotografer senior, dalam kelas Fotografi Festival Kuliner yang merupakan rangkaian lokakarya Kulineran: Kenali Unik dan Enaknya Ragam Warisan Pangan Nusantara, pada 28 Juli 2021 melalui Zoom dan Youtube Live.

Fendi mencontohkan festival pangan kerap kali digelar bersamaan dengan upacara atau ritual adat. Di Kotagede, Yogyakarta, festival pangan menjadi bagian dari ritual Satu Suro. Ritual itu berupa arak-arakan dengan membawa hasil bumi berbentuk gunungan ke makam-makam leluhur. 

“Misalnya gunungan yang tersusun dari bahan-bahan pangan yang bisa mereka temukan di keseharian mereka, seperti sayuran-sayuran terong, wortel, dan sebagainya. Dan ritual itu betul-betul dilakukan dengan serius,” ungkap Fendi. 

Fendi memotret arak-arakan gunungan pangan ketika melewati sebuah rumah tradisional beratap genteng. “Kalau latar belakangnya rumah bertingkat, nanti ceritanya jadi lain,” tutur Fendi ketika memberikan penjelasan mengenai festival pangan yang selalu berkaitan dengan unsur kebudayaan lainnya.

Fendi turut menampilkan contoh festival pangan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Ketika mengunjungi Desa Kemiren, dia mencicipi pecel pithik, makanan khas suku Osing. Makanan itu disajikan bersama tarian gandrung yang ditampilkan oleh Ibu Temuk, seorang maestro tari gandrung.

Di luar menari, Ibu Temuk menyangrai kopi secara tradisional di belakang rumahnya. Ibu Temuk juga piawai membuat pecel pithik. Menurut Fendi, Ibu Temuk melakukan semua hal secara sungguh-sungguh. Fendi kemudian menggabungkan adegan-adegan itu dalam satu video.

“Tarian kan menyambut tamu. Tamu datang disambut dengan tarian, dimasakin pecel pithik, kemudian dibikin acara bareng, ada angklung dan sebagainya kita gabung menjadi satu. Jadi begitu cara kita membuat sebuah festival di dalam narasi digital,” terang Fendi.     

Seperti di dalam kelas-kelas sebelumnya, Fendi kembali menekankan bahwa ritual budaya pangan lokal layak didokumentasikan ke dalam bentuk narasi digital agar tidak punah. Beragam wahana media sosial dapat menjadi wadah penyebarannya sehingga masyarakat dan generasi mendatang dapat mengenalnya.

Fendi melanjutkan, pendokumentasian ritus-ritus budaya pangan Nusantara menyasar dua hal. Pertama, untuk menggugah perhatian masyarakat terhadap ketahanan pangan. Kedua, untuk memberdayakan kembali masyarakat adat yang semakin terpinggirkan.

Kelas Fotografi Festival Kuliner bertujuan menyebarkan pengetahuan berbagai khazanah budaya pangan Nusantara kepada masyarakat. Selain itu, kelas ini mengajak masyarakat untuk mendokumentasikan keragaman kuliner khas daerah masing-masing ke dalam platform digital dengan peralatan sehari-hari. Kelas ini diakhiri oleh tanggapan pembicara terhadap karya-karya foto peserta.

Food Photographer dan Dokumentasi Tradisi Kuliner

Pada sesi Fotografi dan Penataan Makanan yang menjadi sesi kedua lokakarya, fotografer pangan Alex Tjoa memaparkan cara menjadi fotografer pangan yang baik. Dia menjelaskan teknik-teknik pemotretan, komposisi, dan cara penyuntingan foto untuk diolah menjadi sebuah foto cerita. Alex juga menjelaskan bahwa proses ini akan memakan waktu.

“Sebuah life-long learning, proses belajar yang terus menerus. Jadi tidak ada jawaban ‘ini yang benar’ atau ‘itu yang benar’, tapi merupakan suatu proses kreatif dan inovatif,” kata Alex. 

Menurut Alex, seorang fotografer pangan membutuhkan wawasan luas dan kecerdasan di berbagai bidang agar bisa menghasilkan karya yang bermutu. Antara lain meliputi pengetahuan budaya dan sejarah, seni, botani, dan lingkungan hidup. 

Wawasan dan kecerdasan dapat diasah dengan membaca buku-buku yang berbobot, mengunjungi museum, dan mempelajari berbagai bidang ilmu. Kegiatan itu melatih daya pikir kritis dan rasa ingin tahu yang kuat sehingga mampu berpikir kreatif dan bertindak inovatif.

Setelah menjelaskan bekal dasar fotografer pangan, Alex mulai menjelaskan bekal teknis. Dia menekankan pada tiga hal, yaitu komposisi objek di dalam bidang, pencahayaan, dan pemaduan warna. 

Alex membagi komposisi foto pangan dalam dua jenis, yaitu center dan sepertiga bidang. Komposisi center cocok untuk menghasilkan foto yang berkesan formal. Sedangkan komposisi sepertiga bidang menghasilkan foto yang berkesan dinamis. 

Fotografer perlu memperhatikan cahaya dalam pemotretan. ”Fotografi itu kan melukis dengan cahaya. Jadi, tanpa cahaya yang baik, walaupun pakai peralatan termahal di dunia pun nggak akan menolong untuk membuat foto yang baik,” ujar Alex. 

Ada dua model pencahayaan untuk fotografi, yaitu cahaya yang datang dari samping objek dan cahaya yang berasal dari belakang objek. Perbedaan cahaya itu akan menghasilkan nuansa foto yang berbeda pula, yakni terang dan gelap. 

Bahasan terakhir Alex adalah penyuntingan. Ada beragam piranti lunak untuk menyunting foto seperti Snapseed, Lightroom, dan Photoshop. Aplikasi Snapseed cocok untuk kamera ponsel. Lightroom digunakan untuk mengoreksi foto secara umum. Photoshop biasanya untuk tingkat penyuntingan yang lebih rumit.   

Kelas Fotografi dan Penataan Makanan bertujuan menyebarkan pengetahuan dasar dan teknis kepada masyarakat agar dapat menghasilkan karya digital menarik dengan menggunakan peralatan-peralatan sederhana. 

Sebagai penutup acara, Alex memberikan penilaian kepada beberapa karya foto peserta.


Tidak ada pesta tanpa makanan dan tidak ada makanan tanpa tatanan penyajian. Keseluruhan rangkaian tata letak sajian kuliner hingga festival kuliner membentuk sebuah kesatuan pengalaman yang unik. Agar bisa dinikmati lebih banyak orang, mengundang partisipasi dan perhatian khalayak luas, perlu keahlian dalam mengolah rangkaian ekspresi budaya itu dalam karya foto yang dirancang dengan baik. Lewat Kelas Generasi Cerlang ini, kalian bisa memperdalam keahlian fotografi festival kuliner dan penataan makanan sehingga bisa mengisi konten media sosial kalian dengan aneka foto makanan yang menggiurkan.

  • Ada kejutan menarik untuk lima pendaftar pertama!
  • Menangkan hadiah untuk tiga peserta teraktif!

Narasumber dan Materi

Sesi 1: Fotografi Festival Kuliner
Narasumber: Fendi Siregar

Sesi 2: Fotografi & Penataan Makanan
Narasumber: Alex Tjoa

Pembukaan Pendaftaran

20 Juli 2021

Penutupan Pendaftaran

27 Juli 2021

Waktu Penyelenggaraan

Rabu, 28 Juli 2021

Sesi 1: 09.00 - 12.00 WIB

Sesi 2: 13.00 - 16.00 WIB

Narahubung

Adinda Tiara Zahrani (087883718440)

Tidak ada komentar

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!