Berderapnya Anak Zaman Menyongsong Keselarasan Baru

Catatan Kuratorial Konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020

 

Berto Tukan dan Martin Suryajaya

 

Preluda

Dewasa ini kita hidup dalam sebuah tata kemasyarakatan yang dibentuk oleh obsesi untuk mengantisipasi risiko. Segala bentuk potensi risiko, khususnya dalam wujud kerugian finansial, dieksternalisasi keluar proses ekonomi dengan cara dibebankan pada masyarakat dan lingkungan hidup. Alih-alih memperhitungkan biaya sosial-ekologis dari pembangunan dengan menempatkannya sebagai tali kekang bagi arus akumulasi laba, kita justru membebankan biaya sosial-ekologis itu pada daur hidup sosial dan daya dukung lingkungan. Hasilnya adalah suatu model pertumbuhan ekonomi yang mengorbankan integrasi sosial dan keselarasan manusia dengan alam sekitarnya. Masyarakat semakin tersekat-sekat ke dalam hierarki sosial dan terkurung dalam prasangka terhadap keanekaragaman ekspresi hidup. Degradasi lingkungan alam pun berjalan bersamaan dengan degradasi kehidupan sosial. Pandemi COVID-19 adalah muara dari model pembangunan yang sama sekali tidak berkelanjutan itu.

Pandemi bukanlah nasib yang datang begitu saja. Pandemi adalah buah dari Kewajaran Lama yang dipimpin oleh logika akumulasi ekonomi yang menyapu-rata semua pertimbangan keselarasan sosial-ekologis. Runtuhnya daya dukung lingkungan dan cerai-berainya solidaritas sosial membuat pandemi datang seperti nasib yang tak terelakkan. Kehadirannya di dunia yang nyaris hancur-lebur ini menimbulkan perubahan di semua lini kehidupan. Kelangkaan sumber pangan dan disrupsi pada rantai pasokan bahan mentah memukul ketahanan pangan kita. Isolasi ekstrem dan kecurigaan pada orang lain yang merebak dalam suasana penjarakan fisik telah memukul ketahanan jiwa-raga kita. Penghancuran ekosistem alam yang terus terjadi selama pandemi memukul ketahanan lingkungan kita. Penutupan ruang-ruang seni dan budaya serta kemerosotan aktivitas kapital dalam sektor kreatif telah memukul ketahanan ekonomi budaya dan ekonomi kreatif kita, yang selama ini diharapkan dapat membimbing kita meninggalkan ekonomi ekstraktif yang takberkelanjutan. Pada puncaknya, keresahan sosial masa pandemi berbaur dengan sentimen etno-religio-kultural yang semakin memperkuat prasangka terhadap keanekaragaman ekspresi budaya telah memukul ketahanan budaya kita. Melemahnya ketahanan bangsa di bidang pangan, jiwa-raga, lingkungan, ekonomi dan budaya ini didiskusikan secara intensif dalam Konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020.

Lima Rumpun Isu

Konferensi PKN 2020 mengupas aneka dampak pandemi di bidang ketahanan lingkungan, pangan, ekonomi, jiwa-raga dan budaya. Tidak berhenti pada daftar masalah, konferensi ini juga mengupas praktik-praktik baik yang terjadi dalam kelima rumpun tersebut dengan tujuan untuk membaca arah ke depan yang perlu kita ambil bersama.

Pertama, rumpun ketahanan lingkungan. Situasi kita hari ini ditandai oleh krisis lingkungan yang memiliki dampak global dan menjalar ke berbagai segi kehidupan. Pemanasan global yang belum juga tertanggulangi mendorong kehancuran begitu banyak habitat dan akhirnya kepunahan berbagai spesies. Pada saat yang sama, kita memiliki aneka wawasan budaya tradisional yang dapat menunjang kelestarian lingkungan dan keberlangsungan kehidupan sosial. Kita perlu menggali lebih banyak mengenai kekayaan wawasan tersebut dengan mendialogkannya dengan berbagai pencapaian budaya modern yang dapat menunjang ketahanan lingkungan.

Kedua, rumpun ketahanan pangan. Situasi kita hari ini ditandai oleh krisis pangan yang disebabkan oleh gangguan pada rantai pasokan akibat pandemi. Gangguan semacam ini berakar pada pembangunan yang tidak merata antara daerah perkotaan dan pedesaan, yakni suatu model pembangunan yang menempatkan kepentingan perkotaan di atas daerah pedesaan. Selain itu kita memiliki aneka wawasan budaya tradisional yang dapat diberdayakan untuk memastikan keseimbangan dan keutuhan rantai pasokan pangan. Kita perlu menggali lebih banyak mengenai kekayaan wawasan tersebut dengan mendialogkannya dengan berbagai pencapaian budaya modern yang dapat menunjang ketahanan pangan.

Ketiga, rumpun ketahanan budaya. Situasi kita hari ini ditandai oleh gegar budaya yang datang dari revolusi di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Aneka ekspresi budaya datang dari segala penjuru dunia dan aneka warisan budaya juga belum selesai kita maknai bersama. Akibatnya kita hidup dalam suatu tata budaya yang merupakan peralihan antara budaya tradisional dan budaya modern: tidak sepenuhnya tradisional, tetapi juga tidak sepenuhnya modern. Kita perlu menggali lebih banyak titik sambung antara budaya tradisi dan modern serta menemukan racikan yang pas sehingga dapat menunjang ketahanan budaya.           

Keempat, rumpun ketahanan ekonomi. Situasi kita hari ini ditandai oleh krisis ekonomi global yang disebabkan oleh pandemi yang mengacaukan neraca perekonomian di hampir seluruh negara. Situasi ini diperparah oleh ketidakmerataan kemampuan ekonomi dan hubungan-hubungan asimetris antara negara dunia pertama dan ketiga. Kendati begitu, kita juga memiliki pilihan alternatif untuk memperkuat perekonomian dengan membasiskannya pada kekayaan budaya bangsa. Kita perlu menggali lebih banyak mengenai kekayaan wawasan tersebut dan melihat berbagai kemungkinan pemanfaatannya dalam agenda pembangunan yang dapat menunjang ketahanan ekonomi.

Kelima, rumpun ketahanan jiwa-raga. Situasi kita hari ini ditandai oleh gangguan atas hidup sehari-hari dalam wujud ancaman kesehatan dan disrupsi hubungan sosial yang disebabkan oleh pandemi. Kedatangan COVID-19 memperlihatkan betapa belum optimalnya upaya kita dalam mengelola kesehatan publik. Sementara itu, penjarakan fisik yang perlu kita laksanakan demi melawan pandemi ternyata menghasilkan berbagai bentuk keterasingan sosial. Kita perlu menggali lebih banyak mengenai kekayaan wawasan budaya di bidang kesehatan secara holistik dengan mendialogkannya dengan berbagai pencapaian budaya modern yang dapat menunjang ketahanan jiwa-raga.

Merumuskan Sikap Kebudayaan, Menghadang Pandemi

Lewat musyawarah yang melibatkan puluhan sesi dan pembicara dari berbagai daerah di tanah air, Konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020 diharapkan dapat mencapai sebuah kebulatan tekad dalam menggariskan agenda utama kita hari ini. Apa yang kita butuhkan bukanlah sikap defensif yang berorientasi pada pertahanan cara hidup lama, Kewajaran Lama, bukan pula suatu kemajuan yang sekadar pengulangan praktik lama ke dalam wujud Kewajaran Baru. Apa yang kita perlukan hari ini adalah menarik rem atas kecenderungan destruktif kita selama ini dalam menyelenggarakan kehidupan bersama di atas bumi. Singkatnya, apa yang harus kita lakukan bukanlah mengeksternalisasi risiko-risiko modernitas, melainkan menginternalisasinya: memberlakukan tuntutan reproduksi kehidupan sosial dan ekosistem alam sebagai tali kekang bagi pembangunan. Apa yang kita inginkan bukan sekadar mengembalikan Kewajaran Lama sebagai Kewajaran Baru, melainkan menciptakan dengan gotong royong semua sebuah Keselarasan Baru.

Konferensi Pekan Kebudayaan Nasional 2020 adalah momentum penting untuk merumuskan strategi bersama dalam memulihkan relasi sosial dan relasi dengan alam. Kita mesti belajar dari pengalaman yang artinya pertama-tama mesti dimaknai sebagai “belajar dari alam”. Di masa pandemi ini, alam telah memaksa kita kembali ke alam: kembali bercocok tanam, kembali merenungkan kesinambungan hidup, kembali menyadari bahwa kita berbagi tubuh dengan bumi. Memulihkan relasi kita dengan alam berarti menjalankan ruwatan kebudayaan bagi manusia modern: mengembalikan irama hidup kita pada irama yang selaras dengan daur hidup alam sekitar. Hanya di atas dasar kesadaran akan jiwa-raga sebagai tanah-air itulah kita akan berbahagia sebagai bangsa. Ekonomi kita haruslah suatu ekonomi kehidupan, yakni perikehidupan yang landasannya adalah kehidupan. Untuk mencapai tujuan itu, tiada cara selain mengupayakan kebangunan jiwa dan badan, kesadaran hati dan budi. Untuk itu, “marilah kita mendoa Indonesia Bahagia” dengan mewujudkan doa itu dalam tindakan mengubah cara kita menyelenggarakan kehidupan kebangsaan.

 


 

Pidato Kunci Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Nadiem Anwar Makarim

 


 

Perumusan Konferensi

survey