Geliat Merdi Sihombing Menekuni Kain Tenun, Terdapat Sisi Budaya, Sosial, dan Pelestarian Alam yang Melekat

Merdi Sihombing telah berkiprah dalam dunia fesyen selama lebih dari satu dekade. Di sepanjang karirnya sebagai perancang busana, putra Batak kelahiran Medan, Sumatera Utara ini selalu mengangkat ragam wastra Nusantara, terutama Ulos, agar menjadi bagian dari peradaban masyarakat modern.

Membawa Ulos ke Atas Catwalk Internasional

Merdi paham betul, untuk dapat memenuhi selera masyarakat masa kini, ia harus terus berinovasi, termasuk memainkan warna-warna baru dan memanfaatkan sejumlah bahan modern dalam setiap mode rancangannya. Meskipun begitu, sebagai putra Batak yang bangga akan warisan budayanya, ia juga tak ingin menghilangkan nilai-nilai tradisi yang sudah lama melekat pada Ulos.

Merdi dikenal sebagai sosok perfeksionis, yang selalu mengedepankan kesempurnaan di setiap tahap proses pembuatan bahan yang akan menjadi bagian dari rancangan-rancangannya. Ia mendatangi langsung para penenun di kampung-kampung di Sumatera Utara, bukan hanya untuk memahami situasi sosial budaya para penenun, melainkan juga untuk memperkenalkan berbagai teknik dan bahan yang lebih ramah lingkungan kepada mereka.

Hasil kerja yang maksimal dan mendalam itulah yang menuntun Merdi Sihombing ada pada saat ini. Karya kain Ulos Merdi kini sudah terpampang dalam beberapa pergelaran dan museum dunia, seperti di Museum Swarovski di Austria, pergelaran 25 Tahun PT South Pacific Viscose di Hotel Mulia, Tresemme Bangladesh Fashion Week 2019, Eco Fashion Week Indonesia 2019 di Belgia dan masih banyak lagi.

Pemberdayaan Masyarakat Demi Penghidupan yang Layak Bagi Masyarakat Pedesaan

Ketika mengunjungi masyarakat pengrajin di kampung-kampung di Sumatera Utara, Merdi Sihombing mendapati bahwa banyak pengrajin mengalami kesulitan ekonomi. Bahkan, banyak di antara mereka yang tidak punya pekerjaan tetap.

Menyaksikan kenyataan yang demikian itu membuatnya kemudian menjalankan program padat karya. Secara rutin, ia mengajarkan kepada para pengrajin tersebut bagaimana caranya menghitung harga dasar serta menciptakan manajemen keuangan yang baik.

Program padat karya yang ia gagas merupakan sebuah kegiatan pembangunan yang banyak menggunakan tenaga manusia ketimbang tenaga mesin. Hasil kerajinan yang dibuat langsung oleh tangan dan tenaga manusia akan terlihat lebih elok ketimbang hasil mesin. Program ini juga ia upayakan untuk menekan angka pengangguran dan mengurangi kemiskinan.

Eco-Fashion dan Sustainable Fashion Ala Merdi Sihombing

Pada 2017 lalu, sebuah data yang mengejutkan diungkap oleh Ellen MacArthur Foundation. Nyatanya, polusi yang dihasilkan industri fesyen sama besarnya dengan yang dihasilkan oleh batu bara, dan minyak bumi dan gas alam. Data tersebut menyatakan bahwa setiap detik, satu truk limbah tekstil membuang limbah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau membakarnya. Aksi nyata yang kemudian digagas oleh para penggiat fesyen pun muncul, dan dua di antaranya adalah Eco-Fashion dan Sustainable Fashion.

Merdi Sihombing pun tak luput dalam kesadaran global tersebut. Sejak 2018 lalu, ia kerap menjalankan apa yang disebut sebagai re-thinking fashion. Di sepanjang tahun, ia mendedikasikan waktunya untuk membangun komunitas di beberapa pelosok, seperti di Alor, Rote Ndao, Banyuwangi dan Lombok. Tujuannya adalah untuk mengajarkan berbagai teknik pengerjaan dan bahan ramah lingkungan, mulai dari penggunaan warna alam, benang organik, dan pengelolaan limbah tekstil yang baik.

Merdi berharap seluruh penggiat fesyen dapat menggunakan bahan pewarna alami. Namun, perlu diingat, sumber dari alam pun bisa habis seiring berjalannya waktu, sehingga perlu juga diterapkan budidaya sumber terlebih dahulu.

“Contohnya teripang yang saya dalami bersama kelompok penenun lokal di daerah Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT),” demikian Merdi dalam salah satu wawancaranya. “Kita tahu, bahwa teripang ini kan sudah menjadi komoditas sejak jaman dahulu, dijual ke China dan menjadi makanan dan obat. Nah, biasanya sebelum teripang tersebut dijual, kan harus direbus dan dikeringkan/diasapkan terlebih dahulu. Air rebusan teripang inilah yang kami manfaatkan sebagai zat pewarna alami. Daripada dibuang ya kita manfaatkan lagi.”

Menjadi suatu kebanggaan, Indonesia memiliki perancang busana yang selalu menyelaraskan berbagai nilai penting Tanah Air, termasuk pelestarian alamnya. Tak heran jika karir Merdi Sihombing sarat akan prestasi, termasuk rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) atas penemuan teknik tenun dengan pewarna alam fibre micro tencel dan Tenun Kristal Motif Tradisional.

Artikel Lainnya: