Arsitektur bukan hanya soal membangun rumah impian super mewah atau merancang rumah murah. Arsitektur adalah juga soal membangun nilai kehidupan dan tata laku. Ada ruang pengabdian kepada masyarakat di dalamnya. Gede Kresna mengamini hal itu dan memilih mengabdikan hidupnya untuk membangun bangunan-bangunan yang berpihak pada kebutuhan masyarakat. Paling, hanya satu dua proyek yang ia kerjakan dalam setahun melalui bironya, Rumah Intaran. Agar hidupnya benar-benar bermakna, ia bahkan lebih memilih tinggal di desa, jauh dari pusat keramaian.

Bagi Gede Kresna, desa memberi keluasan cara pandang dan keseimbangan batin. Sebagai arsitek, desa juga memberi banyak inspirasi, lengkap beserta berbagai macam material bangunan. Dengan mengandalkan hampir semua material dari alam, ia bisa ikut merawat kehidupan. Dan, demi memberi manfaat pada sesama, ia juga mengandalkan bahan lokal. Bahkan, di Rumah Intaran, ia tak hanya melulu mengerjakan gambar bangunan, melainkan juga berbagai kerajinan, produksi madu hingga minyak kelapa.

Rumah Intaran

Lahir di Bali, pada 15 Agustus 1974, Gede Kresna menamatkan pendidikan menengahnya di Buleleng sebelum akhirnya melanjutkan kuliah arsitektur di Universitas Indonesia (UI) pada 1994. Menariknya, meski kuliahnya selesai, Gede Kresna tidak pernah mengambil ijazah dari UI. Baginya, ijazah hanya akan menjadi beban yang tidak akan membuat manusia benar-benar bebas.

Setelah lulus dari UI, Gede Kresna sempat bekerja di Jakarta sebelum membuat biro sendiri dengan nama Rumah Intaran. Nama itu terinspirasi dari pohon Intaran, yang memiliki manfaat sangat beragam, baik sebagai obat hingga penyuplai oksigen yang cukup banyak ke alam bebas. Salah satu majalah lingkungan bahkan menyebut pohon Intaran sebagai ‘the most useful tree in the world’. Di beberapa tempat di Bali, pohon Intaran juga disakralkan. Kayunya digunakan sebagai material dasar bangunan-bangunan suci.

Kresna berharap Rumah Intaran bisa menjadi ‘obat’ bagi sejumlah permasalahan di Indonesia. Seperti pohon Intaran, yang semua bagiannya berguna. Biji pohon Intaran, yang dikenal dengan nama Mimba, Nimba atau Imbo, bisa dimanfaatkan sebagai pestisida alami. Sementara itu, daunnya bisa dimanfaatkan sebagai obat, sedangkan ranting dan kulit kayunya biasa dipakai untuk sikat gigi. Dengan akar yang kuat dan pohonya yang menjulang tinggi, Intaran juga sangat bagus untuk perindang sekaligus penahan erosi.

Budaya, Arsitektur, dan Realisasi

Gede Kresna memiliki kesadaran dan kecintaan pada budaya sejak masih duduk di bangku sekolah menengah. Ia menetapkan tujuan dan fokus dalam hidupnya untuk melestarikan budaya Indonesia dan membantu sesama. Tujuan itu coba direalisasikan Gede Kresna melalui arsitektur.

Tak hanya budaya Bali, kecintaan Gede Kresna pada budaya Nusantara juga membuatnya belajar kebudayaan tiap-tiap suku. Setiap kali mendesain bangunan, potensi keindahan budaya masing-masing daerah coba Gede Kresna tonjolkan. Hal ini membuat unsur budaya sangat kentara pada setiap hasil karyanya. Bahkan, kalau dibuat alur berpikir pada setiap karyanya, urutan pertama adalah budaya, baru kemudian arsitektur.

Unsur budaya salah satunya diwujudkan dalam ornamen. Misalnya, pada Rumah Batubulan–salah satu karya Gede Kresna–terdapat banyak ukiran di pintu, jendela maupun dinding rumah. Karya lainnya yaitu Rumah Tepi Sawah, yang juga menunjukkan berbagai macam ukiran pada langit-langit.

Gede Kresna sangat memperhatikan bahan atau material yang digunakan. Hampir semua material yang digunakan berasal dari alam. Selain itu, tempat asal material yang ia gunakan juga sangat diperhatikan. Gede Kresna bahkan membuat sistem scoring pada setiap asal muasal material. Semakin jauh material yang diambil, scoring yang diberikan semakin rendah. Begitupun sebaliknya, semakin dekat material, scoring akan semakin tinggi.

Sebelum memulai proses desain bangunan, Gede Kresna juga melakukan survei lapangan dengan tujuan untuk mengetahui kebiasaan dan budaya masyarakat setempat. Survei langsung juga bertujuan menggali potensi yang ada di daerah tersebut. Dalam proses pekerjaan pembangunan, Gede Kresna juga berusaha melibatkan warga setempat.

Tak Sekadar Arsitektur

Sejak awal, Gede Kresna berkomitmen untuk memberi sumbangan pemikiran atas persoalan mendasar bangsa ini. Rumah Intaran sendiri hanya menampilkan sedikit porsi untuk Arsitektur. Lebih banyak kegiatan lain di dalamnya.

Hal utama yang diangkat dalam Rumah Intaran adalah persoalan jangka panjang, yaitu kelangkaan pangan. Kegiatan seperti eksplorasi material, riset pangan sosial dan kultural, menanam pohon dan sebagainya lebih banyak dilakukan di Rumah Intaran. Dari sana, Gede Kresna berharap akan ada banyak manfaat diberikan oleh Rumah Intaran.

Inspirasi Lainnya:


Tidak ada komentar

Tulis komentar

JADIKAN PKN LEBIH BAIK LAGI

Kami terus berupaya memberikan sajian acara yang berkualitas dengan mengangkat Kebudayaan Nasional untuk dapat lebih dikenal secara luas. Bantu kami menjadi lebih baik dengan mengisi survey sebagai bahan evaluasi di masa mendatang.

ISI SURVEYNYA DI SINI!