Kuratorial
Laku Hidup
Laku Hidup adalah gagasan mengenai kebudayaan sebagai payung yang melingkupi beragam praktik, beragam ekspresi, dan nilai-nilai yang hidup serta terus bergerak di dalam keseharian masyarakatnya.
Josh Marcy
Dewan Kurator Laku Hidup
7 program dalam Kuratorial Temu Jalar:
Laku dalam Ruang
Lewat Laku dalam Ruang, praktik penciptaan koreografi dengan pendekatan dialektika keragaman praktik artistik dan konteks spasial dibangun. Program ini mengakui keragaman praktik artistik selalu terhubung dengan ruang publik yang ada. Melalui perspektif koreografi peserta residensi membaca interaksi yang terjadi dan menjadikan ruang publik sebagai panggung untuk berekspresi dan berinteraksi dalam seni dan budaya.
Laku Cipta
Peserta program Laku Cipta datang dari seniman/kelompok pertunjukan khususnya tari, teater, musik, dan seni performa di Indonesia. Selama proses lokakarya, peserta akan memproduksi gagasan dan karya berbasis komunitas/masyarakat dan berorientasi pada proses yang inklusif. Pendekatan yang digunakan berlandaskan upaya penciptaan seni pertunjukan berbasis komunitas untuk mendorong inklusivitas, keterlibatan aktif, penghargaan terhadap keberagaman, serta mencipta perubahan sosial.
Lingkar-Dalam-JKT
Kegiatan Lingkar-Dalam-JKT ini dikhususkan untuk komunitas seni pertunjukan serta warga kota DKI Jakarta yang selama ini tumbuh di bawah pembinaan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta. Aktivitas dalam program ini memberi penekanan pada interaksi antar komunitas tari serta upaya memperkaya pengalaman warga lokal lewat aktivasi ruang publik di sekitarnya. Adapun tiga aktivitas utama dalam program ini adalah pelatihan dan pertunjukan warga kota di 5 RPTRA, pertunjukan tari dan teater di PPSB di 5 wilayah DKI Jakarta, dan lokakarya penunjang seni pertunjukan.
Tari & Inklusivitas
Penyelenggaraan lokakarya pada program ini merujuk pada praktik yang sudah ada dan dilakukan oleh beberapa komunitas serta individu. Praktik yang menitikberatkan pada gerakan tari yang memberi ruang keterlibatan anak dan difabel. Di ujung program, masing-masing pelaku diharapkan dapat mengembangkan praktiknya dalam bentuk pagelaran yang paling sesuai dengan kebutuhan konteks lokalnya bisa dalam wujud pertunjukan, lokakarya terbuka, seni dan aktivisme, hingga bentuk kreativitas lainnya.
Lokakarya Produser: Jejaring Produser Indonesia
Program ini bertujuan meningkatkan pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan dalam mengelola dan mendukung seni pertunjukan. Lewat lokakarya beragam aspek mulai dari manajemen acara, pemasaran seni, pengaturan keuangan, perencanaan dan tata kelola organisasi seni semua dibahas termasuk pengembangan sumber daya manusianya. Harapannya ini dapat membantu mendorong pertumbuhan industri langsung dari para pelakunya di lapangan.
Lokakarya Pelaku Penunjang Seni Pertunjukan
Lokakarya ini merupakan program pelatihan khusus yang ditujukan untuk para anggota tim kerja gedung pertunjukan PPSB yang terlibat dalam produksi langsung. Tidak hanya untuk memberikan pengetahuan mendalam, keterampilan teknis, dan pemahaman lebih luas, tapi juga pendalaman keterampilan seperti pencahayaan, suara, desain panggung, pengaturan panggung, serta peran-peran krusial lainnya. Dengan harapan bisa meningkatkan keterampilan standar serta mendorong profesionalisme pelaku penunjang untuk industri seni pertunjukan yang lebih baik di masa mendatang.
Membaca Pakem: Tubuh dan Tanda
Menelusuri tari tradisi tidak dapat memisahkannya dari konteks lokal yang dimulai dari menelisik kerja riset arsip tari. Tujuannya untuk memahami dan menjaga warisan budaya berharga. Arsip di sini termasuk yang bersifat dokumentatif seperti visual, audio, dan riset tertulis, maupun arsip yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat lewat praktik keseharian. Para peneliti mempelajari gerakan, gaya, kostum, musik, dan konteks pertunjukan tari tradisional sembari berdialog dengan para penari, guru tari, tokoh masyarakat, serta pihak terkait lainnya. Pada akhirnya didapat pemahaman lebih mendalam tentang arti, makna, dan konteks sosial, budaya, serta spiritual dari tari tradisional.
© 2024, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia