KHAZANAH MINGGUAN

Cerita Masyarakat Batak Menuang Simbolis Kehangatan di Balik Kain Ulos

Dda berapa banyak sumber kehangatan di dunia? Para leluhur suku Batak percaya ada tiga sumber panas yang bisa memberikan kehangatan kepada manusia, yaitu matahari, api dan Ulos. Dua hal pertama tidak begitu mengherankan, tetapi mungkin Anda bertanya-tanya tentang poin ketiga. Mengapa Ulos dipercaya menjadi sumber kehangatan bagi leluhur suku Batak? Nyatanya, banyak yang belum tahu asal muasal kain yang menjadi salah satu peninggalan budaya Indonesia ini. Jadi, simak asal-usul Ulos beserta ragam motifnya berikut ini:

Pengertian Kain Ulos

Secara harfiah, Ulos berarti selimut yang berfungsi untuk menghangatkan dan melindungi tubuh manusia dari terpaan udara dingin. Para leluhur suku Batak, yang tinggal di pegunungan, menciptakan kain tenun satu ini sebagai pelindung dari udara dingin. Sehingga, ketika matahari sedang tidak menunjukkan batang hidungnya, atau saat para leluhur sedang kehabisan kayu bakar untuk membuat api unggun, mereka tidak perlu takut kedinginan.

Namun, seiring berjalannya waktu, fungsi kain dari Sumatera Utara ini pun berkembang. Para tetua adat kerap menggunakannya untuk perhelatan resmi atau upacara adat, sehingga kain yang dibuat dengan cara ditenun ini pun menjadi semakin tinggi nilainya bagi kehidupan. Kain ini menjadi simbol dan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang Batak, terutama dalam ritual adat Mangulosi. Apa itu Mangulosi?

Mangulosi

Secara harfiah, Mangulosi berarti memberikan Ulos. Mangulosi biasanya menjadi ritual di berbagai acara seperti perkawinan dan pemakaman. Tentu saja, tidak sembarang orang boleh melakukan ritual ini. Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi. Salah satunya, orang yang dapat Mangulosi adalah mereka yang menurut tutur atau istilah keturunan berada di atas orang yang akan menerima Ulos.

Mangulosi juga merupakan ritual pemberian Ulos sebagai simbol cinta dan kasih sayang. Misalnya, orang tua kepada anaknya, adik kepada kakaknya dan hula-hula (keluarga laki-laki dari pihak perempuan) kepada Boru. Setiap jenis Ulos memiliki maknanya masing-masing. Oleh karena itu, jenis yang digunakan harus disesuaikan dengan ketentuan adat sehingga maknanya tidak tertukar.

Jenis-jenis Kain Ulos

Jenis kain tenun yang satu ini memiliki bentuk yang menyerupai selendang dengan ujung yang berumbai. Ulos biasanya ditenun dari benang kapas atau rami oleh kaum perempuan Batak. Tiap warna pada Ulos memiliki arti sendiri-sendiri. Putih melambangkan kesucian, merah melambangkan keberanian, kuning melambangkan kaya/kesuburan, sementara hitam melambangkan kedukaan. Berbagai macam Ulos yang dikenal dalam adat Batakantara lain adalah:

  1. Ulos Ragidup
    Ragidup mempunyai arti lambang kehidupan. Ulos Ragidup adalah ulos yang paling sakral.t. Biasanya, jenis ini digunakan dalam upacara adat perkawinan di daerah-daerah yang masih kental adat Bataknya. Dalam upacara tersebut, Ulos Ragidup diberikan oleh orang tua pengantin perempuan kepada ibu pengantin laki-laki.
  2. Ulos Ragi Hotang
    Hotang artinya rotan. Jenis yang satu ini juga termasuk berkelas tinggi, meskipembuatannya tidak lebih rumit daripada Ragidup. Dalam upacara kematian, Ragi Hotang digunakan untuk mengkafani jenazah dan pembungkus tulang-belulang dalam upacara penguburan yang kedua kalinya.
  3. Ulos Sibolang
    Ulos Sibolang adalah  simbol dukacita. Ulos jenis ini digunakan masyarakat Batak dalamupacara adat pemakaman.

Meskipun di zaman sekarang ulos sudah beralih fungsi, namun maknanya sebagai sumber kehangatan tetap terpatri dalam hati semua orang Batak, seperti pepatah Batak yang berbunyi: “Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong,” yang mempunyai arti “jika ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya, maka Ulos adalah pengikat kasih sayang antara sesama.”

Menerima Ulos dari orang yang dikasihi akan memberikan kehangatan tersendiri, karena pemberian itu selalu disertai iringan doa dan kasih sayang yang senantiasa menyelimuti dan melindungi kita. Sesuai dengan fungsi sebenarnya dari Ulos itu sendiri, yaitu sebagai selimut dan pelindung masyarakat Batak.