Public
Sembilan Program Kuratorial di Pekan Kebudayaan Nasional 2023
Di balik kesuksesan PKN 2023 terdapat tim kuratorial yang berperan dalam menggali, memilih, dan menghadirkan karya-karya budaya yang memukau kepada publik. Dalam rangkaian acara tersebut, terdapat sembilan program kuratorial yang menonjol dan beragam, yang memberikan kontribusi besar dalam menghidupkan semangat pemajuan kebudayaan Indonesia.

Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 adalah salah satu acara budaya terbesar di Indonesia yang diantisipasi oleh banyak orang. Acara ini memainkan peran penting dalam mempromosikan dan merayakan kekayaan budaya Indonesia. Di balik kesuksesan PKN 2023 terdapat tim kuratorial yang berperan dalam menggali, memilih, dan menghadirkan karya-karya budaya yang memukau kepada publik. Dalam rangkaian acara tersebut, terdapat sembilan program kuratorial yang menonjol dan beragam, yang memberikan kontribusi besar dalam menghidupkan semangat pemajuan kebudayaan Indonesia. Berikut adalah gambaran singkat tentang kesembilan program kuratorial tersebut.

1. Berliterasi Alam dan Budaya

Berliterasi Alam dan Budaya merupakan upaya untuk berinteraksi dengan alam dan budaya yang beragam melalui berbagai ruang percakapan inklusif dan setara. Program-programnya bertujuan untuk menggali pengetahuan praktik baik, mempromosikan literasi, dan menyebarkan kesadaran tentang ruang hidup dan lingkungan melalui berbagai media.

"Berliterasi Ruang Hidup" adalah program yang memberikan penekanan pada penerbitan berbagai karya, seperti teks, gambar, foto, audio, video, dan instalasi, dengan fokus pada pemahaman, solusi, dan pemberdayaan ruang hidup. "Rekam-O-Rama" memvisualisasikan upaya warga pemukiman padat dalam membangun kesadaran lingkungan dan sosial melalui media rekam. Terakhir, "Main Bareng Serius" memperkenalkan koleksi boardgame inovatif yang menggabungkan konsep kolektif, lokal, dan isu-isu kontemporer, menjadikannya alat interaktif untuk menjelajahi budaya lokal, mempromosikan interaksi sosial, dan memperkuat ikatan dalam komunitas.

2. Rantai Bunyi

Dalam wujud pengenalan, pemeliharaan dan pengembangan kaya budaya musik Nusantara, Rantai Bunyi menjadi model penelusuran bunyi dan pengalaman pengetahuan lintas bunyi. Fokusnya adalah pada musik dawai dengan atau tanpa nyanyian, dihubungkan dengan praktik dan komunitas yang berciri khas di seluruh Nusantara. Program ini membuka peluang untuk bertemu, bertukar ide, dan merasakan keberagaman bunyi Nusantara melalui berbagai aktivitas.

Program-programnya termasuk "Residensi & Konser Ceramah Rantai Bunyi" yang mencakup lokakarya, kreasi, penelitian, dan publikasi dalam berbagai provinsi. Selanjutnya, "Penerbitan CD Album & Bunga Rampai Rantai Bunyi: Dawai Nyanyian" merangkum musik dawai nyanyian dalam bentuk CD Album yang dihasilkan oleh musisi residensi dari kelima provinsi. "Rombong Dangdut" adalah pertunjukan serupa flashmob yang menghadirkan lagu-lagu dangdut ikonik dari berbagai dekade. "Rombong Dawai" melibatkan musisi dari berbagai alat musik dawai seperti Sape, Gitar Lokal, dan Ukulele untuk mempertemukan perbedaan musikal dalam sebuah karya kolaboratif. Terakhir, "Instalasi Dialek Nusantara" mengkomposisikan bunyi dari dialek bahasa daerah Indonesia yang hampir punah menjadi instalasi bunyi rupa.

3. Pendidikan yang Berkebudayaan

Dalam upaya memperkaya pendidikan dengan unsur budaya, Pendidikan yang Berkebudayaan menggabungkan praktik pendidikan formal dan non formal yang telah ada. Empat program intinya mencakup "Buah Budi," yang berfokus pada pengembangan guru dan siswa melalui seni pedagogi dan kolaborasi dengan seniman. "Ragam Pekerti" mendorong media literasi berbasis budaya lokal, dan "Citra Karsa" menciptakan sumber daya pendidikan kreatif. "Wastu Karya" adalah rumah galeri yang memajang karya-karya hasil kerja sama antara pelaku pendidikan dan seniman, dengan tujuan memperkaya pengalaman pendidikan.

4. Jejaring, Rimpang

Jejaring, Rimpang adalah serangkaian inisiatif yang menekankan pentingnya pengarsipan dalam seni dan budaya kontemporer, dengan tujuan memperkuat hubungan sosial dan memasukkan arsip ke dalam berbagai aspek ekspresi kreatif. Dalam tujuh programnya, seperti "Taman Bacaan Danarto" yang melibatkan guru, seniman, dan siswa dalam pengarsipan, atau "Kenduri Rasa" yang merayakan warisan kuliner Nusantara. 

Inisiatif ini berusaha merangkul keragaman seni dan budaya Indonesia dan menghadirkannya kepada masyarakat. Melalui proyek "Seakan-akan Tidak Ada Matahari," karya pelukis Kustiyah yang menggambarkan perjalanan sejarah kompleks Indonesia diperkenalkan kepada khalayak, mengingatkan kita akan warisan budaya yang tak ternilai harganya.

5. Sedekah Bumi Project

Sedekah Bumi Project adalah inisiatif yang menggabungkan gagasan kedermawanan dengan upaya menjaga keberlangsungan ekosistem, baik di aspek lingkungan, sosial, maupun seni-budaya. Sedekah diartikan sebagai tindakan memberi tanpa mengharapkan imbalan materi, melainkan sebagai bentuk kesalehan, kerelaan, penghindaran bencana, dan ungkapan syukur. Konsep sedekah juga diterapkan dalam konteks seni dan kebudayaan, termasuk praktik-praktik seperti sedekah bumi, kenduri, dan selamatan, baik dalam tradisi maupun kontemporer. 

Program Sedekah Bumi Project melibatkan "Sedekah Bumi," yang menciptakan ruang dialog untuk merenungkan kembali tradisi dan ritual masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran akan lingkungan tempat tinggal, serta "Lawatan Jalan Terus," yang mengelaborasi berbagai isu, tata kelola, strategi, dan konteks sosial-kultural dalam berbagai ruang lawatan. Proyek ini bertujuan untuk memupuk kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem seni, budaya, dan lingkungan melalui tindakan berbasis kedermawanan.

6. Gerakan Kalcer

Gerakan Kalcer adalah inisiatif yang bertujuan untuk memanfaatkan budaya sebagai pilar ekonomi kreatif, merumuskan identitas kota yang berkelanjutan, dan menciptakan ruang publik yang bermakna. Dalam upaya ini, tiga program utama digagas.

Pertama, "Lokakarya Budaya, Penjenamaan Kota dan Cipta Ruang," digelar di Jakarta, Bali, dan Bandung secara daring maupun luring, dengan tujuan membangun kesadaran kolektif tentang potensi budaya dalam mengembangkan identitas kota. Kedua, "Festival Kalcer - Pusako," berlangsung di Sumatera Barat dan memperkuat pentingnya melestarikan warisan budaya melalui berbagai aktivitas seperti instalasi lumbung dan pameran. Ketiga, "Festival Kalcer - Kata Kota Kita," di Jakarta, membuka kesempatan bagi warga kota untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang merangsang kolaborasi kreatif dalam menggali aspek-aspek kota mereka. Melalui Gerakan Kalcer, diharapkan kota-kota Indonesia dapat tumbuh menjadi entitas berdaya yang berlandaskan budaya dan berkelanjutan.

7. Laku Hidup

Dalam semangat Laku Hidup, inisiatif seni dan budaya ini merangkul berbagai praktik, ekspresi, dan nilai budaya yang hidup dan terus bergerak dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Melalui tujuh program utama, seperti "Laku dalam Ruang" yang menghubungkan seni dan ruang publik, "Tari & Inklusivitas" yang mendorong keterlibatan anak dan difabel dalam gerakan tari, dan "Membaca Pakem: Tubuh dan Tanda" yang menggali tari tradisional, Laku Hidup bertujuan untuk memperkaya budaya Indonesia, memajukan seni pertunjukan, serta mempromosikan inklusivitas dan partisipasi masyarakat dalam berbagai ekspresi seni. Dengan demikian, program-program ini berperan dalam memperkaya dan merajut budaya dalam kehidupan sehari-hari.


8. Temu Jalar

Temu Jalar merupakan inisiatif yang berfokus pada pengembangan jejaring pengetahuan, wacana, dan sumber daya kolektif seni di Indonesia. Program ini melibatkan forum mahasiswa, pengamatan artistik warga, majelis kolektif, serta penulisan buku dengan tujuan mempromosikan praktik kebudayaan sehari-hari yang mengakar dalam semangat dan nilai lokal.

Program "Tarkam A.K.A.P (Tarung Kampus Antar Kota Antar Provinsi)" adalah forum yang telah berlangsung sejak tahun 2004, yang mewadahi mahasiswa dari berbagai kampus dan latar belakang disiplin ilmu untuk berdiskusi tentang lingkungan sekitarnya dan memamerkan karya seni mereka. "Unconditional Design" adalah wadah terbuka yang mengumpulkan desain produk, teknologi, dan benda-benda yang diciptakan dalam kehidupan sehari-hari oleh warga, sementara "Lumbung Indonesia" adalah kemitraan yang mengerjakan berbagai program seperti majelis, penelitian, residensi seniman, dan pameran.

Selain itu, inisiatif "Buku Estetika Kolektif Indonesia" berjudul "Praktik Mendahului Kata" merupakan tantangan untuk memberikan argumentasi dan pemahaman tentang beragam estetika yang muncul melalui praktik kolektif di Indonesia.

Kesembilan program kuratorial di Pekan Kebudayaan Nasional 2023 adalah wujud kolaborasi yang mendalam antara seniman, budayawan, kurator, dan masyarakat untuk merayakan dan menjaga kekayaan budaya Indonesia. Program-program ini menjadi jendela yang membuka pandangan kita pada keanekaragaman budaya dan seni Nusantara, serta memberikan kesempatan untuk merayakan dan merawat warisan budaya yang tak ternilai harganya.

© 2024, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia