Public
Nilai Lumbung dalam Pekan Kebudayaan Nasional 2023
Nilai-nilai lumbung dalam kebudayaan masyarakat Indonesia mencerminkan aspek-aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang mendalam. Mari berkenalan dengan nilai lumbung yang diangkat dan menjadi dasar metode kerja PKN 2023.

Lumbung memiliki makna yang sangat penting dan mendalam dalam konteks budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia. Kata "lumbung" sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti tempat penyimpanan hasil pertanian atau gudang padi. Namun, makna lumbung tidak hanya sebatas pada aspek pertanian, melainkan mencakup nilai-nilai kehidupan, sosial, dan budaya yang kaya.

Nilai-nilai lumbung dalam kebudayaan masyarakat Indonesia mencerminkan aspek-aspek sosial, ekonomi, dan budaya yang mendalam. Konsep lumbung tidak hanya berfokus pada penyimpanan hasil pertanian, tetapi juga mencakup nilai-nilai kehidupan bersama, solidaritas, dan kearifan lokal. Berikut adalah beberapa nilai-nilai lumbung dalam konteks kebudayaan masyarakat Indonesia:

1. Gotong Royong:

Konsep lumbung sering kali terkait erat dengan gotong royong, yaitu semangat kerjasama dan bantuan antaranggota masyarakat dalam kegiatan pertanian, panen, dan penyimpanan hasil. Gotong royong menjadi landasan bagi keberlanjutan lumbung sebagai simbol kesejahteraan bersama.

2. Keseimbangan Alam:

Nilai-nilai lumbung mencerminkan pemahaman masyarakat terhadap keseimbangan alam. Dengan menjaga keseimbangan ekosistem dan mengelola lumbung secara berkelanjutan, masyarakat berkontribusi pada harmoni antara manusia dan lingkungan.

3. Musyawarah dan Mufakat:

Penyelenggaraan lumbung sering melibatkan proses musyawarah dan mufakat dalam pembagian hasil, pengelolaan sumber daya, dan kebijakan terkait pertanian. Hal ini mencerminkan nilai-nilai demokrasi dan keterlibatan bersama dalam pengambilan keputusan.

4. Kemandirian Pangan:

Lumbung mencerminkan semangat kemandirian pangan masyarakat Indonesia. Dengan memiliki dan menjaga lumbung yang efisien, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri, mengurangi ketergantungan pada sumber daya luar, dan mencapai ketahanan pangan.

5. Kearifan Lokal:

Nilai-nilai lumbung mencakup kearifan lokal dalam pengelolaan lahan pertanian, pola tanam, dan pemilihan jenis tanaman yang sesuai dengan iklim dan tanah setempat. Ini mencerminkan adaptasi dan penyesuaian terhadap lingkungan lokal.

6. Solidaritas Sosial:

Konsep lumbung juga mencerminkan nilai solidaritas sosial. Masyarakat yang memiliki lumbung yang efisien cenderung lebih solid dan saling mendukung dalam menghadapi tantangan ekonomi atau musibah alam.

7. Kesetaraan:

Proses pembagian hasil di dalam lumbung sering kali didasarkan pada prinsip kesetaraan. Setiap anggota masyarakat memiliki hak dan tanggung jawab yang sama dalam pengelolaan lumbung, menciptakan rasa keadilan dan kesetaraan.

8. Keberlanjutan Lingkungan:

Penekanan pada pengelolaan lumbung secara berkelanjutan mencerminkan nilai-nilai keberlanjutan lingkungan. Masyarakat Indonesia memahami pentingnya merawat sumber daya alam untuk kepentingan generasi mendatang.

9. Identitas Budaya:

Lumbung juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia. Cara masyarakat mengelola lumbung, tradisi pertanian, dan upacara terkait panen menjadi bagian dari warisan budaya yang dijaga dan diwariskan.

Penerapan Nilai-nilai Lumbung

Salah satu perspektif yang dapat diaplikasikan untuk merinci proses lumbung (pelumbungan) adalah dengan melihat bagaimana pembagian sumber daya dan aksi kolektif yang terjadi dapat menjadi nilai yang terkandung dalam kegiatan kebudayaan. Proses ini sejalan dengan upaya kebudayaan dan langkah-langkah untuk mengembangkannya, yang secara jelas bukanlah hasil kerja individu atau kelompok tertentu saja. Nilai ini muncul ketika seluruh komunitas bergerak bersama menuju tujuan kolektif yang ingin dicapai bersama-sama.

Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) 2023 memiliki tujuan yang cukup jelas. Dalam jangka panjang, PKN berusaha sejalan dengan komitmen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, yang menitikberatkan pada peran kebudayaan dalam rencana pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Dalam jangka pendek, PKN mendukung, bergerak, melibatkan, dan memberikan wadah bagi praktik-praktik kearifan lokal serta inisiatif kolektif yang terjadi dalam masyarakat. Proses pelumbungan dimulai dari praktik yang terjadi di sekitar, berkembang melalui kolaborasi yang terbentuk, dan memberikan tempat melalui berbagai program kegiatan yang diadakan.

PKN mencapai lebih dari 200 lokasi di seluruh Nusantara, membangun dialog dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Dari Barat ke Timur, PKN berusaha untuk menjelajahi dan menghubungkan kekayaan budaya Indonesia yang sangat beragam. Meskipun tidak mungkin menyentuh semuanya, setidaknya ini merupakan langkah awal yang signifikan.

Inisiatif seperti Kenduri dan Dapur Bangsa membawa semangat, racikan, serta resep khas Nusantara untuk dibagikan di berbagai tempat yang menjadi ruang tamu PKN. Rombong dangdut dan rombong dawai membawa kekhasan musik dari berbagai penjuru, sementara akal-akalan warga memperlihatkan praktik baik kearifan lokal yang ternyata berlangsung di banyak rumah tangga, tanpa memandang lokasi atau asal-usul budayanya.

Semangat berbagi dan membagikan praktik kearifan lokal berkembang dengan cepat, didukung oleh media sosial dan platform daring sebagai perantara. Antusiasme tumbuh, dan PKN menyajikan ruang tamu di 40 titik di seluruh Jakarta, dengan harapan dapat memberikan wadah yang meski terbatas geografis, namun diharapkan dapat memantik dan menyebarkan semangat ini hingga ke daerah-daerah lain di Indonesia.

Melalui lebih dari 450 seniman, komunitas, dan kelompok yang terlibat dengan PKN 2023, nilai-nilai pelumbungan disebarkan dan dibagikan. Harapannya adalah agar hal ini dapat dilanjutkan secara berkelanjutan, tidak hanya dalam hal durasi tetapi juga dalam mengembangkan dan memperkuat nilai-nilai yang diusung. Ini diperkuat oleh penekanan pada pentingnya menjaga nilai budaya lokal yang seringkali berjalan sejalan dengan harmoni alam dan lingkungan sekitar.

Dalam upaya melestarikan budaya, tak boleh dilupakan keterkaitan antara budaya dan manusia dengan alam dan sekitarnya. Tidak akan ada budaya yang bisa bertahan lama jika alam dan rumahnya tidak lestari. Oleh karena itu, perawatan, pelestarian, dan kemajuan keduanya harus terjadi secara bersamaan.

Budaya dan alam saling melengkapi sejak awal. Kini, tanggung jawab kita sebagai manusia yang merupakan bagian dari masyarakat adalah menjaga harmoni keduanya hingga masa depan. Sebab, sesuai dengan komitmen awal, budaya memiliki peran penting dalam pembangunan, dan pada hari ini kita perlu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan, yang merawat dan menempatkan kelestarian alam sebagai fokus dari semua praktik kearifan lokal dan kebudayaan yang dijalankan.

© 2024, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia