Public
Merawat Bumi dan Budaya: Peran PKN dalam Pelestarian Identitas Indonesia
PKN 2023 adalah peristiwa budaya yang mengangkat dua nilai fundamental yang menjadi tonggak keberlanjutan kita: merawat bumi dan merawat kebudayaan. Di era modern ini, tantangan lingkungan dan perubahan sosial semakin nyata, dan PKN 2023 menjadi panggung utamanya.

Indonesia adalah negeri yang kaya dengan keanekaragaman sumber daya alamnya. Sebagai negara dengan ribuan pulau, setiap sudut tanah air menyimpan sejuta cerita dan tradisi yang erat kaitannya dengan hasil bumi suatu wilayah. Semuanya telah berkembang dan berjalan selama berabad-abad lamanya. Namun, dengan perkembangan yang pesat dan kerusakan lingkungan yang semakin memburuk, tugas merawat bumi pun semakin mendesak. 

Pekan Kebudayaan Nasional 2023 (PKN 2023) adalah sebuah peristiwa budaya yang mengangkat dua nilai fundamental yang menjadi tonggak keberlanjutan kita: merawat bumi dan merawat kebudayaan. Di era modern ini, tantangan lingkungan dan perubahan sosial semakin nyata, dan PKN 2023 menjadi panggung utama bagi kita untuk merenungkan dan meresapi makna pentingnya menjaga alam dan kekayaan budaya kita. Sekaligus mempromosikannya kepada generasi muda agar kebudayaan nasional kita tidak hilang begitu saja. Merawat bumi dan merawat budaya tidak hanya saling terkait tetapi juga menjadi kunci untuk masa depan yang berkesinambungan dan dapat diwariskan kepada generasi penerus.

Merawat Bumi: Tanggung Jawab Bersama

Sebagai makhluk yang mendiami planet ini, kita memiliki tanggung jawab moral untuk merawat bumi kita. Bumi adalah rumah bagi kehidupan kita, sumber kehidupan kita, dan sumber inspirasi kita. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia telah memberikan dampak besar pada lingkungan alam kita. Pemanasan global, polusi udara, dan deforestasi adalah dampak lingkungan yang diakibatkan oleh akselerasi pembangunan berbasis usaha atau bisnis mengeksploitasi alam terus-menerus (dan ini menjadi tantangan utama kita untuk merawat bumi). 

Dalam menghadapi masalah ini, konservasi hutan hujan, pemulihan ekosistem terdegradasi, dan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan menjadi langkah-langkah penting dalam upaya merawat bumi. Namun, pelestarian alam dan upaya melindungi keanekaragaman hayati akan menjadi sia-sia, jika kita tidak bisa menciptakan pembangunan yang selaras dengan alam, atau menerapkan pola bisnis yang berkelanjutan. Di sinilah budaya dan kebudayaan Indonesia memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologi, karena kebudayaan kita selalu menitikberatkan pada keharmonisan hubungan antara alam dengan manusia.

Kebudayaan dan Alam: Saling Terkait

Budaya dan alam saling terkait dalam hubungan yang kompleks. Identitas budaya sebuah masyarakat sering kali tercermin dalam hubungannya dengan alam sekitarnya. Di Indonesia, misalnya, banyak budaya dan tradisi yang terkait erat dengan lingkungan sekitar, seperti budaya nelayan di pesisir pantai atau budaya petani di dataran tinggi.

Namun, perubahan lingkungan yang cepat dapat mengancam budaya-budaya ini. Naiknya permukaan laut bisa mengancam pemukiman tradisional di pantai, sementara perubahan iklim bisa mempengaruhi musim tanam di dataran tinggi. Oleh karena itu, merawat bumi dan budaya merupakan dua hal yang harus dilakukan secara bersamaan.

Pekan Kebudayaan Nasional: Jembatan antara Bumi dan Budaya

Pekan Kebudayaan Nasional adalah salah satu wadah untuk mensosialisasikan dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama merawat bumi dan juga budaya Indonesia agar tidak tenggelam ditelan perubahan zaman. Ketika kita berbicara tentang budaya, kita tidak berbicara sebatas tarian, lukisan, musik, ataupun baju tradisional di daerah tertentu. Kita juga berbicara mengenai upacara adat hingga masakan khas dari seluruh Indonesia, dan semuanya memiliki hubungan erat dengan alam.

Contoh paling sederhana ketika musim panen padi datang, setiap wilayah di Indonesia memiliki upacara yang berbeda-beda untuk menyambutnya yang merupakan ucapan rasa syukur kepada Tuhan. Biasanya upacara panen akan melibatkan laku tertentu, dan juga menu masakan tertentu yang hanya disajikan ketika musim panen tiba.

Di Indonesia sendiri terdapat beberapa upacara panen padi yang berbeda-beda, yang umumnya terkait dengan tradisi budaya dan kepercayaan agama masyarakat setempat. Beberapa upacara panen padi yang populer di Indonesia antara lain:

  1. Hari Raya Nyepi (Tahun Baru Saka): Di Bali, panen padi sering kali diawali dengan perayaan Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka. Ini adalah hari libur besar di Bali yang dimulai dengan upacara Melasti dan diakhiri dengan hari raya Nyepi, di mana orang Bali menjalani puasa dan meditasi dalam keheningan total. Setelah Nyepi, upacara panen padi sering diadakan sebagai tanda syukur kepada Dewi Sri, dewi padi dan pertanian.
  2. Upacara Panen Gaba-Gaba (Seram, Maluku): Suku Manusela di pulau Seram, Maluku, memiliki tradisi panen yang dikenal sebagai "Gaba-Gaba." Dalam upacara ini, masyarakat mengumpulkan padi dan mengadakan pesta panen dengan tarian, musik, dan persembahan kepada leluhur sebagai tanda rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh.
  3. Hari Raya Panen (Hornbill Festival): Di Kalimantan, terutama suku Dayak, ada tradisi panen yang disebut "Hornbill Festival". Ini adalah perayaan besar yang mencakup berbagai aktivitas budaya, seperti tarian, musik, dan pertunjukan seni lainnya, sebagai bagian dari upacara panen padi.
  4. Upacara Panen Rambu Solo' (Toraja): Upacara panen padi ini adalah salah satu upacara adat terpenting bagi suku Toraja di Sulawesi Selatan. Rambu Solo' dilakukan untuk merayakan hasil panen yang melimpah dan menghormati leluhur. Dalam upacara ini, padi yang telah dipanen akan diarak dalam prosesi yang diiringi musik tradisional dan tarian.
  5. Upacara Panen Ma'randing (Bugis): Suku Bugis di Sulawesi Selatan memiliki tradisi panen padi yang dikenal sebagai Ma'randing. Dalam upacara ini, padi yang telah dipanen disimpan dalam lumbung tradisional yang disebut "lemombo." Selama upacara, masyarakat Bugis menyajikan berbagai jenis makanan tradisional dan berdoa untuk kesuksesan di masa depan.

Upacara panen padi ini mencerminkan keanekaragaman budaya dan kepercayaan agama di seluruh Indonesia. Setiap upacara memiliki makna dan tradisi yang khas, tetapi semuanya mengekspresikan rasa syukur masyarakat terhadap hasil panen dan hubungan mereka dengan alam serta kepercayaan agama mereka.

Merawat Bumi, Melestarikan Budaya Nasional

Pekan Kebudayaan Nasional adalah bukti nyata dari betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara merawat bumi dan budaya. Ini adalah acara yang merayakan kekayaan budaya Indonesia dan, pada saat yang bersamaan, mengingatkan kita akan pentingnya menjaga alam kita. Merawat bumi dan budaya bukanlah tanggung jawab yang bisa ditinggalkan kepada pihak lain; ini adalah tugas bersama yang harus dilakukan oleh semua orang.

Melalui Pekan Kebudayaan Nasional, kita dapat memahami bahwa budaya dan alam adalah dua sisi dari koin yang sama. Merawat satu aspek tanpa yang lainnya adalah seperti mencoba memainkan melodi tanpa melodi lainnya. Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan, kita perlu merawat bumi dengan bijaksana, dan dalam menghadapi tantangan pengaruh budaya global, kita perlu merawat budaya kita dengan cermat.

Dengan menjaga keseimbangan ini, kita dapat memastikan bahwa Indonesia akan terus berbunga dan bersinar, sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman budaya dan alam. Pekan Kebudayaan Nasional 2023 adalah panggilan untuk merayakan, merawat, dan melindungi kekayaan budaya Indonesia dan, pada saat yang sama, merawat dan melindungi bumi yang menjadi rumah bagi budaya ini

© 2024, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia